Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya” (brani 12 : 5)
Judul hari ini kalau dibaca bunyinya sama tetapi pengertiannya berbeda. Tiba-tiba saja melintas judul ini saat menulis. Tahu easy kalau diterjemahkan bahasanya memiliki arti 'tahu gampang' alias tidak mau repot/susah. Sedangkan ketika menyebut nama tahu isi, pikiran kita langsung membayangkan sebuah kudapan gorengan tahu yang berisi sayuran atau daging. Namun, bukan hal itu yang akan kita bahas dalam isi renungan hari ini.
Bagaimana kebiasaan anak kecil? Anak kecil biasanya tidak mau repot, tidak mau susah, dan ingin segala sesuatunya instant. Kalau Anda masih memiliki kebiasaan seperti itu, berarti Anda dikategorikan masih ‘anak kecil' meskipun secara umur sudah tua. Hasil yang maksimal tidak akan tercapai dan bertahan lama bila diraih dengan cara instant. Anda mungkin harus sedikit repot dan mengalami kesulitan pada awal membangunnya. Namun, yakinlah, ketika Anda mau berproses, usaha tidak pernah menipu hasil akhir. Sama halnya ketika Tuhan mempercayakan karunia kepada kita, tidak muncul begitu saja. Kita harus memiliki pengertian yang benar terlebih dahulu mengenai karunia, bagaimana cara mengembangkannya, bagaimana mempraktikkannya dalam kehidupan kita, dan bagaimana memelihara karunia tersebut sehingga menjadi lebih tajam dan bertambah-tambah di dalam kehidupan kita.
Ibrani mengingatkan kita kembali akan nasihat Kitab Amsal, ”Jangan anggap enteng didikan Tuhan”. Seseorang yang dewasa rohnya akan siap ketika menerima didikan Tuhan, ia tidak menganggapnya remeh. Didikan Tuhan tidak selalu berupa pendisiplinan, tetapi kadang terjadi saat kita dipercaya mengemban sebuah kepercayaan. Ketika kita merasa sudah melakukan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya, tetapi ternyata ekspektasinya tidak seperti itu. Malah yang terjadi adalah kita menerima koreksi, teguran, bahkan evaluasi.
Bagaimana kita berespon? Di situlah Allah sedang mendidik kita. la sedang mengajar kita untuk tetap memiliki kerendahan hati, penundukan diri, dan kerelaan hati untuk menerima koreksi, teguran, bahkan evaluasi.
Selanjutnya dikatakan, “Janganlah putus asa apabila engkau peringatkan-Nya”. Ini berarti ketika kita menerima didikan tersebut, hati kita harus tetap terjaga aman, jangan terganggu karenanya. Justru di sinilah Tuhan sedang menunjukkan betapa la sangat menjaga langkah kita agar tidak mudah tergelincir saat menerima kepercayaan. Biarlah semakin kita tahu apa yang benar, semakin kita mengisi hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang mendatangkan damai sejahtera. (LA)
0 comments:
Post a Comment