Wednesday, May 17, 2023

TAHU ‘EASY’ ATAU TAHU ISI?

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya” (brani 12 : 5)

Judul hari ini kalau dibaca bunyinya sama tetapi pengertiannya berbeda. Tiba-tiba saja melintas judul ini saat menulis. Tahu easy kalau diterjemahkan bahasanya memiliki arti 'tahu gampang' alias tidak mau repot/susah. Sedangkan ketika menyebut nama tahu isi, pikiran kita langsung membayangkan sebuah kudapan gorengan tahu yang berisi sayuran atau daging. Namun, bukan hal itu yang akan kita bahas dalam isi renungan hari ini.

Bagaimana kebiasaan anak kecil? Anak kecil biasanya tidak mau repot, tidak mau susah, dan ingin segala sesuatunya instant. Kalau Anda masih memiliki kebiasaan seperti itu, berarti Anda dikategorikan masih ‘anak kecil' meskipun secara umur sudah tua. Hasil yang maksimal tidak akan tercapai dan bertahan lama bila diraih dengan cara instant. Anda mungkin harus sedikit repot dan mengalami kesulitan pada awal membangunnya. Namun, yakinlah, ketika Anda mau berproses, usaha tidak pernah menipu hasil akhir. Sama halnya ketika Tuhan mempercayakan karunia kepada kita, tidak muncul begitu saja. Kita harus memiliki pengertian yang benar terlebih dahulu mengenai karunia, bagaimana cara mengembangkannya, bagaimana mempraktikkannya dalam kehidupan kita, dan bagaimana memelihara karunia tersebut sehingga menjadi lebih tajam dan bertambah-tambah di dalam kehidupan kita.

Ibrani mengingatkan kita kembali akan nasihat Kitab Amsal, ”Jangan anggap enteng didikan Tuhan”. Seseorang yang dewasa rohnya akan siap ketika menerima didikan Tuhan, ia tidak menganggapnya remeh. Didikan Tuhan tidak selalu berupa pendisiplinan, tetapi kadang terjadi saat kita dipercaya mengemban sebuah kepercayaan. Ketika kita merasa sudah melakukan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya, tetapi ternyata ekspektasinya tidak seperti itu. Malah yang terjadi adalah kita menerima koreksi, teguran, bahkan evaluasi.

Bagaimana kita berespon? Di situlah Allah sedang mendidik kita. la sedang mengajar kita untuk tetap memiliki kerendahan hati, penundukan diri, dan kerelaan hati untuk menerima koreksi, teguran, bahkan evaluasi.

Selanjutnya dikatakan, “Janganlah putus asa apabila engkau peringatkan-Nya”. Ini berarti ketika kita menerima didikan tersebut, hati kita harus tetap terjaga aman, jangan terganggu karenanya. Justru di sinilah Tuhan sedang menunjukkan betapa la sangat menjaga langkah kita agar tidak mudah tergelincir saat menerima kepercayaan. Biarlah semakin kita tahu apa yang benar, semakin kita mengisi hati dan pikiran kita dengan hal-hal yang mendatangkan damai sejahtera. (LA)

Tuesday, May 16, 2023

KHARISMA VS KARAKTER

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7: 22-23)

Karisma adalah istilah bahasa Yunani untuk karunia atau talenta. Pada dasarnya setiap kita punya karunia dan kita mempunyainya berbeda satu dengan yang lain. Sebenarnya ada dua macam karunia. Yang pertama bersifat jasmani, misalnya karunia bermain sepak bola, karunia bernyanyi. Yang kedua adalah karunia rohani, yaitu karunia yang diberikan Tuhan yang bersifat supranatural, seperti karunia bernubuat, karunia membedakan roh, karunia kesembuhan. Gereja yang percayaatau mempraktekkan karunia Roh, disebut Gereja Karismatik.

Setiap karunia memang harus dikembangkan hingga bertumbuh maksimal, tetapi jangan terlalu berbangga dengannya. Jangan pernah membandingkan karunia Anda dengan karunia orang lain. Mengapa? Karena karunia itu pemberian Tuhan. Karunia itu seperti hadiah, bahkan hadiah yang diberikan tanpatergantung dengan kontribusi kita.

Bagaimana dengan karakter? Alkitab menuliskan karakter itu dengan istilah buah Roh. Karakter bukan seperti sidik jari yang lahir bersama dengan kita dan tidak bisa diubah. la tidak lahir bersama kita, kita yang bertanggung jawab untuk membentuknya.

Secara umum karakter dapat diartikan: jati diri kita, yaitu siapa diri kita. Setiap kita bertanggung jawab membentuknya, tetapi karakter yang unggul tidak terbentuk dengan gampang, melainkan melalui kesesakan, penderitaan dan kegigihan.

Bacaan Firman di atas memperingatkan tentang orang yang berkarunia supranatural seperti bernubuat dan menyembuhkan orang sakit, tetapi ditolak masuk surga karena ia tidak mempunyai buah Roh, atau tidak mempunyai karakter yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan kalimat: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Jadi, di dalam kehidupan ini jangan hanya mengembangkan karunia saja, tetapi utamakanlah juga mengembangkan karakter Anda. Pembentukan karakter memang tidak terjadi secara gampang, diperlukan proses melalui penderitaan yang sering kita alami.

Karisma dapat membuat seseorang sukses sampai ke puncak, tetapi karakterlah yang dapat mempertahankan kesuksesan tetap ada di puncak. Sehebat apa pun kharisma Anda, itu hanya berguna di dunia yang sementara ini. Namun, jika Anda berkarakter unggul, karakter itu akan terus Anda bawa sampai kepada kekekalan. Sehebat apa pun kharisma Anda, jika Anda berkarakter tidak baik, Anda bisa ditolak masuk Kerajaan Allah karena Allah tidak mengenal Anda. (DD)

Monday, May 15, 2023

MENGUATKAN JIWA

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”(Mazmur 42:5)

Ada seorang datang kepada psikolog untuk berkonsultasi. Orang ini mengeluh bahwa hidupnya sangat tertekan, penuh dengan goncangan. Kalau malam, dia tidak bisa tidur sehingga harus mengonsumsi obat tidur, makan tidak enak, dan masih banyak lagi yang dia keluhkan. Dia ingin terlepas dari tekanan ini, agar dapat bersukacita, bebas dari rasa khawatir, cemas yang berlarut-larut, serta bebas dari macam-macam hal yang menekankan jiwanya.

Lalu apa jawaban psikolog terkenal itu? Dia menjawab, saya anjurkan supaya Anda bergembira dalam hidup ini. Pergilah untuk menonton pertunjukkan komedi terkenal yang akan pentas malam ini. Pasti Anda akan tertawa, perut Anda akan tergoncang dan gembira serta Anda akan bahagia. Lalu orang itu menjawab, "tidak perlu". Psikolog itu bertanya heran, "loh kenapa?". Karena komedian terkenal yang akan tampil malam ini adalah saya sendiri.

Tak ada jaminan bagi pengikut Kristus bahwa ia akan imun dari perasaan tertekan, kekhawatiran, atau kekeringan rohani. Berhadapan dengan kondisi zaman yang penuh dengan segala tuntutan yang terkadang tanpa batasan, kegagalan, konflik, doa yang tidak terjawab, kehilangan orang terkasih, dan tekanan pekerjaan, kondisi stres dan kekeringan rohani merupakan sesuatu yang tak terhindarkan bagi siapapun. Bahaya terbesar dari kondisi tersebut adalah ibarat kita sedang menggunakan kacamata gelap untuk melihat dunia, sehingga pandangan kita pada dunia menjadi gelap. Kita menjadi lelah, tiada pengharapan, menjadi lebih sensitif, dan melihat semuanya dengan sudut pandang yang keliru. Akhirnya kita dapat terjebak pada perasaan mengasihani diri sendiri, terlalu terfokus kepada perasaan pribadi, yang akhirnya mengaburkan kita dari melihat Pribadi Allah. Jika masalah ini tidak seger diselesaikan, tinggal menunggu waktu untuk kita menjadi burn out, atau bahkan depresi dan kejatuhan dosa yang lebih dalam.

Daud memutuskan untuk berbicara kepada dirinya sendiri (Self Talk), sebuah ungkapan jujur, tetapi bukan sekedar mengungkapkan dirinya, melainkan mengingatkan jiwanya akan komitmen kepercayaan kepada pribadi Tuhan. Tentu hal ini tidak mungkin dilakukan ketika keadaan sulit dan tertekan, melainkan dalam kondisi baik/tenang melalui kedisiplinan membangun relasi dengan Tuhan dan FirmanNya. Mazmur 62:11-12, "Satu kali Allah berfirman, dua ha/ yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan;" Melalui firmanNya, Daud mengenal bahwa Tuhan itu pribadi penuh kasih setia dan kuasa, dan itulah yang dia ingatkan kepada jiwanya. Apakah yang kita ingatkan pada jiwa kita? (HA)

Sunday, May 14, 2023

TANDA-TANDA YANG SERTAI ORANG PERCAYA

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16 : 17-18)

Ayat ini adalah sebuah janji dari 'wasiat' yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum IA terangkat ke surga. Biasanya bila kita menerima sebuah wasiat dari seseorang yang akan atau yang telah meninggal dunia, maka apa yangia sampaikan dan apa yang terdapat dalam surat wasiat mutlak dilakukan atau dipatuhi oleh orang yang menerima wasiat tersebut. Kesannya, wasiat itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang yang menerimanya dan pantang untuk dibatalkan.

Bila hukum di dunia begitu melegalisir sebuah surat wasiat yang disampaikan oleh manusia, maka bisa kita bayangkan betapa powerfulnya wasiat yang disampaikan oleh Yesus secara langsung kepada murid-muridNya sebelum IA terangkat ke surga; Lalu la berkata kepada mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Markus 16 : 15-16). Bila wasiat ini dilakukan oleh para murid maka ada janji yang akan mereka terima, yaitu tanda-tanda yang menyertai orang-orang percaya. Jadi, jelas bahwa wasiat/amanat itu harus dilaksanakan terlebih dahulu baru janji/upah akan menyertainya.

Apakah Anda adalah murid Kristus? Jika ya, berarti Anda pun harus melaksanakan yang Yesus sampaikan. Sudahkah Anda memberitakan Injil Kristus? Sudahkah Anda membawa jiwa untuk mengenal Kristus dan mengalami lahir baru? Jika belum, sekaranglah waktunya. Jangan takut! Yang perlu Anda lakukan adalah mau melangkah, mau taat, mau mengaplikasikan apa yang sudah dikaruniakan kepada Anda.

Sedikitnya ada 5 tanda yang menyertai bila melakukan amanat dari Tuhan Yesus;

1. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku. Ingat! Kita orang-orang percaya diberi kuasa untuk mengusir setan-setan. Jadi, jangan takut sama setan!

2.Mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka. Artinya, Tuhan akan mengaruniakan kepada kita karunia bahasa roh yang berfungsi membangun manusia roh kita.

3.Mereka akan memegang ular. Ini artinya kita diberi kuasa untuk menaklukkan hal-hal yang mematikan atau dapat membinasakan tubuh.

4.Sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka. 

Ini bukan berarti mencobai diri kita, namun ada jaminan perlindungan dari Tuhan Yesus.

5.Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.


Apakah Anda percaya? (LA)

Saturday, May 13, 2023

MEMBANGUN KEINTIMAN

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (Kolose 4:2).

Doa itu penting, tetapi nyatanya tidak disukai oleh banyak orang Kristen. Coba hitung berapa banyak waktu yang Anda pakai untuk berdoa setiap hari? Bandingkan dengan waktu yang Anda gunakan untuk main gadget dan nonton drakor atau film? Hasilnya pasti akan membuat Anda tersipu malu.

Doa adalah kekuatan orang benar. Doa itu seperti kita mengisi lagi “baterai” rohani yang mulai habis dayanya. Dan di dalam doa, rohani Anda akan disegarkan kembali. Tetapi kenyataannya Anda tidak mau berdoa, atau berdoa tetapi asal-asalan. Semuanya dilakukan dengan instan dan tergesa-gesa.

Belajarlah bertekun di dalam doa. Ambillah waktu-waktu khusus untuk bertemu dengan Tuhan di dalam doa Anda. Jangan sok rohani dengan mengatakan bahwa Anda bisa berdoa sambil berjalan atau minum kopi. Seolah-olah Anda berkata, “Tuhan, maaf ya saya lagi sibuk. Kita bicara santai saja sambil saya menyelesaikan tugas saya. Anggaplah ini rumah-Mu sendiri.” Allah dianggap tamu yang tidak penting.

Doa itu sebenarnya bersifat intim. Komunikasi di dalam doa itu membangun keintiman antara Allah dengan manusia. Rahasia ini disingkapkan dalam kitab Kidung Agung. Dahulu saya tidak mengerti kitab yang “agak vulgar” ini ada dalam jajaran kitab kudus lainnya? Apa Tuhan menaruh tidak salah kitab ini? Akhirnya saya mendapatkan pengertian bahwa Kitab Kidung Agung merupakan refleksi dari kisah cinta antara Allah dengan umat-Nya. Bukankah gereja digambarkan sebagai mempelai Kristus?

Yesus itu kekasih jiwa kita. Bangunlah kasih yang dalam antara Anda dengan Kristus supaya Anda merasakan kehangatan cinta ilahi. Ini membutuhkan kesetiaan dan kedisiplinan Anda berdoa dan membangun komunikasi.

Membangun keintiman dengan Allah hanya dapat dilakukan melalui komunikasi yang konstan, dan doa adalah salah satu cara ke arah itu. Luangkan waktu untuk bersekutu dengan Allah di dalam doa, maka hidup Anda akan berubah.(DH)

Friday, May 12, 2023

DIPEGANG SAKIT, DILEPAS TIDAK BOLEH

Seorang pemuka agama dalam sebuah pernyataannya pernah pengatakan bahwa, "beragama itu seperti memegang bara api, dipegang sakit tetapi dilepaskan tidak boleh." Hal ini dikatakannya berkaitan dengan adanya ayat-ayat dan ketentuan-ketentuan dalam agamanya yang kontroversial di mana di dalamnya terkandung hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan. Memang ada ketentuan-ketentuan seperti membunuh orang yang tidak sepaham, boleh berbohong, berpoligami bahkan masalah seksual dan sebagainya yang jika dilakukan mengganggu peradaban dan akal sehat dan tentu saja menyakitkan. Tetapi karena ada dalam kitab sucinya, maka tentu saja tidak boleh diabaikan dan dibuang.

Lalu bagaimana dengan kehidupan kekristenan, apakah ketentuan firman Tuhan itu juga merupakan bara yang menyakitkan di tangan? Memang beberapa ayat alkitab mensyaratkan hal-hal yang sukar dipahami seperti dalam Lukas 6:27-28 “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Hal ini tentu saja sukar dan menyakitkan untuk dilakukan. Karena natur orang adalah membalas kejahatan dengan kejahatan dan membenci orang yang memusuhinya. Namun tertulis dalam 1 Yoh. 5:3 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, ...”

Dalam hal inilah, kita diajarkan berpikiran logis, yaitu bahwa sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, kejahatan tidak pernah dapat dikalahkan dengan kejahatan, malahan menambah banyak masalah baru. Berpikir logis karena dipengaruhi kasih kepada Allah, karena kasih menutupi banyak kesalahan seperti marah, benci, dendam dan keingingan-keinginan jahat lainnya. Kasih memampukan orang melakukan kehendak Allah dan melakukan kebenaran dengan cara yang benar, logis dan tidak emosional. Jadi sangatlah wajar bagi orang yang tidak mengenal kasih Allah beranggapan bahwa perintah-perintah Allah itu sangat berat. Dan tentu saja sangatlah mengherankan kalau seseorang merasa berbakti dan beribadah kepada Allah tetapi menganggap perintah-perintah Allah sangat berat untuk dilakukan.

Ketika kehidupan kehilangan esensinya yaitu kasih, maka dunia harus dijejali dengan berbagai hukum dan aturan yang memenjarakan manusia dalam penjara rasa takut terhukum. Oleh karena itulah perlu mengenal kebenaran yang memerdekakan dan kebenaran itu adalah perintah untuk saling mengasihi. Kasih itulah esensi kehidupan umat manusia yang melenyapkan ketakutan. Haleluya. (LS)

Thursday, May 11, 2023

FLEXING

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Timotius 6:9).

Flexing adalah istilah yang digunakan untuk mereka yang suka pamer kekayaan. Keberadaan dari media sosial membuat fenomena flexing semakin mudah untuk dilakukan. Tak bisa dipungkiri, sangat sulit bagi kita untuk tidak melakukan flexing ketika memiliki sesuatu untuk dipamerkan. Meski dilakukan secara virtual, tetapi kebiasaan flexing membuat manusia ingin terlihat memiliki kekayaan, menarik secara fisik, dan juga populer.

Belakangan flexing mulai berdampak buruk karena menimbulkan rasa iri yang berlebihan. Tak kurang Presiden Jokowi mengingatkan jajaran perwira polisi dan keluarganya untuk menghindari pamer kemewahan. Dan baru-baru ini, Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani meminta membubarkan klub Moge (Motor Gede) yang ada di kalangan ASN di departemen keuangan. Ibu Sri Mulyani juga melarang bawahannya untuk melakukan flexing. Sebab, flexing bisa memicu rasa kesal masyarakat yang telah dengan susah-payah membayar pajak yang jumlahlah tidak sedikit. Jika masyarakat kecewa mereka bisa memboikot dan tak mau membayar pajak secara benar.

Mengapa prilaku flexing sangat marak dan dilakukan oleh banyak kalangan? Bahkan juga dilakukan di kalangan Pendeta Kristen dan keluarganya? Secara ilmu jiwa, Flexing atau pamer kekayaan adalah cara menunjukkan kesuksesan seseorang lalu kemudian berharap mendapat penghargaan. Ketika seorang mendapat pujian dan penghargaan, maka ia merasa senang. Dengan demikian seseorang yang gemar flexing adalah orang yang lapar dan haus akan pujian dan pengakuan orang lain. Jika demikian, apakah bisa dikatakan seorang yang suka flexing adalah seorang yang sakit jiwa? Kalau mengacu bahwa semua orang butuh pengakuan, tentu tidak. Namun,  bilamana nafsu flexing telah sedemikian rupa hingga sampai melakukan berbagai tipuan kamera, maka bisa bisa jadi orang tersebut sudah dalam taraf 'sakit jiwa'. la akan kecanduan flexing, dan terus memikirkan bagaimana cara semakin mendapat pujian.

“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia” (Pengkotbah 5:9).

Waspadai perilaku Anda, apakah Anda termasuk seorang yang suka cari perhatian secara berlebihan? Apakah hati Anda serasa hampa bila tak melakukan pamer dengan konten flexing? Bila demikian, Anda telah terjangkiti 'virus flexing'. Siapa pun Anda, bisa terjangkit virus ini. Waspadalah, sebab kekayaan, kemewahan, dan kegagahan hanya tipuan belaka. Anda tak akan pernah merasa puas seberapun Anda memiliki dan memamerkannya. (DD)

Wednesday, May 10, 2023

FILLED WITH THE POWER

Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak (Kisah Para Rasul 6:8).

Bulan ini kita memasuki tema bulanan, “Filled with the Power”. Teladan apa yangd apat kita petik dari kehidupan seorang rasul yang bernama Stefanus? la ada salah satu dari tujuh orang yang dipilih untuk melayani orang miskin. Belum banyak cerita terekam dari seorang Stefanus sebelumnya, tetapi sejarah para rasul mencatat bahwa gara-gara seorang martir yang bernama Stefanus, membawa seorang Saulus mengalami perjumpaan dengan Yesus.

Membaca Kisah Para Rasul 6:8-15, sedikit saja dikupas hal apa yang sudah dilakukan oleh Stefanus di dalam pelayanan kerasulannya. Alkitab mencatat ia seorang yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Magnet yang dimiliki oleh seorang Stefanus adalah ia tidak saja penuh dengan karunia, tetapi juga kuasa. Kata 'kuasa' di sini adalah dunamis yang berarti kekuatan atau kemampuan. Tidak heran ketika ia diajak bersoal jawab, tidak ada seorang pun yang dapat melawan hikmatnya. Inilah pemicu mengapa Stefanus sampai akhirnya menjadi seorang martir.

Seseorang yang hidupnya dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus tidak mudah dipatahkan oleh ancaman apa pun. la akan tetap berdiri di atas Kebenaran berapa pun harga yang harus ia bayar. la sadar bahwa hidupnya sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus, digerakkan oleh Roh Kudus, dikendalikan oleh Roh Kudus, dan dipimpin oleh Roh Kudus. Bahkan sekalipun berada di lembah kekelaman, ia tetap yakin Roh Kudus memberinya rasa aman dan tentram. Bukan hanya itu, orang yang dipenuhi kuasa Roh Kudus berbeda dengan dunia, itulah sebabnya ia dibenci, dicari-cari kesalahannya, bahkan tidak sedikit berujung di bui akibat fitnah atau kesaksian palsu oleh orang-orang yang tidak mendukungnya.

Sekali lagi, teladan apa yang kita dapat petik dari kehidupan seorang rasul bernama Stefanus? la mengisi hidupnya dengan 'Kuasa=dunamis' yang tidak lain bersumber dari Roh Kudus. la bukan saja penuh dengan karunia, namun ia mengimbangi karunia itu dengan dunamis, kuasa, power. Kita boleh saja memiliki karunia, tetapi karunia harus berjalan bersama dengan dunamis maka karunia itu akan berdampak bagi banyak orang. Miliki hubungan yang intim dengan Tuhan, bangun manusia roh kita setiap hari, berjalanlah dalam pimpinan Roh Kudus. (LA)

Tuesday, May 9, 2023

YA ALLAHKU INGAT PERJUANGANKU

“Ya Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini” (Nehemiah 5:19). 

Nehemiah dikenal sebagai nabi pembangun tembok. Ia seorang Israel yang hidup dalam pembuangan di Persia sebagai pegawai kerajaan Persia, tetapi ia begitu terbeban untuk membangun tembok kota Yerusalem yang dibiarkan menjadi reruntuhan. Seorang Nabi selalu terpanggil sendiri di jalan sunyi, artinya adalah panggilan demi membangun orang lain dan mengorbankan kehidupan nyaman untuk dirinya sendiri. 

Pekerjaan Nehemiah membangun tembok kota Yerusalem mendapat support dari Raja Persia, Artahsasta, tetapi perjuangannya tidak mudah. Ia mengorbankan harta, tahta dan kenyamanannya. Di jalan yang sunyi itu ia hanya mendapatkan kekuatan saat bergumam “Ya Allahku, ingatlah perjuanganku!” Kalimat ini memang seperti komplain, tetapi kalimat ini  adalah suatu jeritan terdalam, “Engkau yang memanggilku, Tuhan, Engkau sumber kekuatan dan berkat, ingatlah, aku melakukan bukan demi diriku sendiri.” 

Tantangan besar bagi orang yang terpanggil di jalan sunyi adalah saat hal yang menjadi panggilannya tak kunjung terwujud, saat hal yang diperjuangkan seolah berhenti di tengah jalan, sama sekali tak ada support dari pihak lain, saat tubuhnya tak berdaya, tetapi perjuangan seolah masih panjang. 

Kekuatan orang di jalan sunyi adalah “rasa belas kasihan” yang melampaui semua cita-cita yang ia inginkan. 

Setiap kita sebagai orang Kristen seharusnya terpanggil di jalan sunyi. Seperti yang Rasul Paulus katakan di kitab Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Namun, kekristenan telah menjadi jalan yang lebar di tengah keramaian, jalan dimana semua orang secara mudah, tanpa bayar harga dan pengorbanan, dapat masuk ke dalamnya. 

Saat ini hampir semua orang yang mengaku pengikut Kristus tak pernah menyadari bahwa “hidupnya telah mati bagi diri sendiri”. Itu sebabnya, sebagian  kecil di antara Anda yang terpanggil sebagai orang Kristen sejati, Anda  sedang terpanggil di jalan sunyi walaupun Anda bukan seorang nabi, yaitu jalan yang hanya Anda dan Tuhan yang mengerti, jalan yang dihindari banyak orang. Bukan untuk menyepi sendiri, tetapi berjalan di tengah keramaian, di tengah berkarya, yang tujuannya adalah kesejahteraan orang lain. Jalan seorang nabi, dimana hanya yang terpanggil yang bisa memahami dan menjalaninya. Kekuatan Anda hanyalah ketika suara lembut Sang Khalik bergema, "Ingat, engkau tak pernah berjalan sendiri, Aku selalu bersertamu!" Immanuel! (DD) 

Monday, May 8, 2023

STRATEGI SETAN vs STRATEGI ALLAH

 “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri” (2 Korintus 12:7).

Allah tidak hanya berkuasa dalam segala keadaan, tetapi la juga Allah yang “cerdik” dalam strategi. Setan yang terkenal licik dibuat mati kutu oleh strategi Allah. Ini bukan soal olah raga atau militer, tetapi lebih dari itu. Mengapa strategi Allah jauh lebih unggul dari strategi Setan? Sejarah menyatakan demikian. Mari lihat beberapa contoh ini:

Pertama, kasus Ayub. Setan mempunyai strategi untuk menjatuhkan Ayub dengan meminta Allah untuk mengizinkan dia membuat Ayub menderita. Setan mempunyai tujuan supaya Ayub jatuh dan mengumpati Allah! Bukannya umpatan yang keluar dari mulut Ayub, malahan pujian kepada Allah. Pada akhir hidupnya, Allah memberkati Ayub dua kali lipat! Berkat “jasa” Setan inilah Ayub malahan mendapatkan berkat ganda.

Kedua, kasus Yudas. Siapa yang memprovokasi Yudas? Semua orang tahu, dialah Setan! Tetapi melalui Yudas, Anak Manusia memang disalibkan. Apakah penyaliban Yesus merupakan bagian dari rencana Setan? Ya! Tetapi Allah membalikkan semuanya sehingga kematian Kristus justru merupakan penggenapan dari rencana Allah bagi keselamatan manusia. Apa yang dianggap kemenangan bagi Setan, justru merupakan kekalahan.

Ketiga, kasus Paulus. Setan memberikan duri dalam daging Paulus. Saya tidak bermaksud memperdebatkan apakah arti “duri” itu, tetapi yang pasti duri tersebut adalah penderitaan. Maksud Setan supaya Paulus kecewa kepada Tuhan dan membuatnya meragukan firman-Nya. Namun, Allah mempunyai strategi lain. Justru di dalam kelemahan dan penderitaan itu kuasa Allah semakin sempurna. Duri itu juga merupakan “pengingat” supaya Paulus tidak sombong dengan pengalamannya diangkat ke Firdaus. Di dalam penderitaan, kuasa Allah semakin dinyatakan.

Kalau Anda menderita karena berbuat dosa, Anda akan sengsara. Tetapi kalau penderitaan itu karena Anda melakukan kebenaran, kuasa Allah akan semakin sempurna dalam hidup Anda. Coba gantilah doa Anda dengan berkata, “Tuhan, jangan ambil penderitaan ini dari hidupku, melainkan nyatakan kesempurnaan kekuatan-Mu dalam hidupku.”(DH)

Sunday, May 7, 2023

Christ in me The new has come

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru."    2 Korintus 5:17

Kata baru dalam bahasa yunani ada dua kata: neos dan kainos. Neos: artinya tidak sama dengan yang lama dan dapat dikerjakan oleh manusia, sedangkan Kainos: artinya sama sekali baru bukan perbaikan dari sebelumnya; dan hanya dapat dikerjakan oleh Allah. Dalam nas ini, kata "baru" yang digunakan ialah kata "kainos".  ciptaan baru ialah karya Tuhan dan bukan hasil pekerjaan manusia.  

Paulus ingin mengingatkan bahwa bagi orang Kristen, yang berada di dalam Kristus, pribadi lamanya telah mati dan bangkit sebagai manusia yang baru. Di dalam kehidupan yang baru, kita tidak lagi mengikuti standar-standar yang ditawarkan oleh dunia melainkan mengikuti kehendak Allah. Dunia telah tenggelam dan jatuh ke dalam dosa dan rusak, maka Kristus datang dan menebusnya melalui kematian dan kebangkitan. Manusia yang telah menjadi ciptaan yang baru, dipercayakan untuk menjadi utusan Kristus untuk memberitakan kabar pendamaian bagi manusia dan dunia, karena manusia baru hidup berdasarkan apa yang dikehendaki Allah.  

Siapakah kita di dalam Kristus? Kita adalah ciptaan baru. Apa artinya menjadi ciptaan yang baru? Menjadi ciptaan yang baru artinya    untuk meninggalkan kehidupan yang lama, hidup kudus dan takut akan Tuhan. Dipercayakan untuk menjadi perwakilan Allah di dunia untuk terus menerus menyampaikan kabar sukacita kepada orang lain, melalui pikiran perkataan dan perilaku kita sehari-hari, yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang… Hiduplah sebagai duta-duta Kritus dimanapun kamu berada! 

Saturday, May 6, 2023

HIDUP DALAM KEBENARAN

“Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu” (Mazmur 26:3) 

Ada banyak orang mengejar karunia ROH KUDUS. Apakah ini salah? Tentu tidak salah. Namun, jika karakter KRISTUS belum terbentuk dalam kehidupan kita maka karunia ROH KUDUS yang ada dalam kehidupan kita akan mengundang cibiran banyak orang. Oleh sebab itu hendaknya buah ROH KUDUS nampak nyata dalam kehidupan kita sehingga setiap orang yang berjumpa dengan kita akan mengalami dan menikmati perjumpaan dengan YESUS KRISTUS. Orang yang berkarakter KRISTUS akan berusaha menjaga kehidupannya berkenan kepada TUHAN. Mari kita belajar mengenai hidup dalam kebenaran. 

Yang pertama - apa yang menjadi fokus kita ?  Mzm 26:3. Fokus kita sesungguhnya memperlihatkan isi hati dan motivasi kita. Seringkali kita gagal fokus karena kita terganggu oleh pandangan dan pendapat orang lain tentang kita. Orang bisa salah dalam memberi pandangan dan pendapat tentang diri kita. Mengapa demikian? Karena mereka tidak hidup dan tinggal bersama kita. Hanya orang-orang yang hidup dan tinggal bersama dengan kita yang lebih mengenal kita daripada orang yang hanya melihat dan mendengar kita sekilas. Seharusnya kita lebih fokus kepada tugas dan panggilan hidup kita daripada memperhatikan pandangan dan pendapat orang lain. Seharusnya kita juga berfokus kepada kasih setia TUHAN dan hidup dalam kebenaran. Siapa dan apa kebenaran itu? Kebenaran adalah pribadi TUHAN – Yoh 14:6. Sudahkah isi hati dan motivasi kita benar di hadapan TUHAN? Sudahkah kita fokus kepada tugas dan panggilan hidup kita? 

Yang kedua, bagaimana hidup dalam kebenaran ? Orang yang hidup dalam kebenaran mau tak mau harus hidup melekat erat dengan TUHAN. Jika kita mau hidup dalam kebenaran maka kita tidak akan kompromi dengan dosa. Orang yang hidup dalam kebenaran akan berkomitmen untuk meninggalkan dosa – Rm 6:18. Orang yang hidup di dalam TUHAN tahu bahwa standar hidup bersama TUHAN adalah kekudusan hidup. Oleh sebab itu orang yang hidup dalam kebenaran akan berkomitmen untuk hidup dalam kekudusan – Rm 6:19. Orang yang sudah mengenal SANG KEBENARAN akan selalu berkomitmen untuk hidup dalam kebenaran – 1 Ptr 2:24. Orang yang berjalan bersama SANG KEBENARAN tidak akan mengejar hal yang sia-sia. Ia akan mengejar kebenaran dan kasih – Ams 21:21. Orang yang hidupnya mengandalkan TUHAN akan hidup oleh iman – Gal 3:11. Jangan mau ditipu dan diperbudak iblis lagi. Iblis akan berusaha menarik perhatian dan fokus Anda kepada TUHAN. Sudahkah kita hidup dalam kebenaran? (DW) 

Friday, May 5, 2023

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

“Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.” (Amsal 12:1) 

Petrus dan Paulus adalah dua rasul yang hebat, yang dipakai Tuhan luar biasa di zamannya dan pengaruhnya besar sampai hari ini. Namun mereka bukanlah pribadi-pribadi sempurna tanpa kelemahan. Namun suatu saat ketika Petrus mengunjungi Antiokia, Paulus terus terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka (Gal 2:11-13). Pada saat itu, orang-orang Yahudi menganggap sebagai aib jika sampai bergaul, apalagi makan sehidangan dengan orang tidak bersunat. Saat melihat, bahwa kelakuan Petrus dan kawan-kawan tidak sesuai dengan kebenaran Injil, Paulus berkata kepada Petrus di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” (Gal 2:14). 

Ini adalah teguran yang keras dan terus terang tanpa basa basi di depan semua orang. Padahal masa itu, Petrus adalah rasul paling senior dan sangat dihormati di kalangan orang Kristen awal. Memang tidak disebutkan bagaimana reaksi Petrus yang jelas-jelas sangat dipermalukan di depan banyak orang, tetapi tidak ada catatan bahwa Petrus marah lalu bermusuhan dengan Paulus. Malahan dalam suratnya kemudian, Petrus menyebut Paulus sebagai saudara yang kekasih dan mengakui bahwa ajaran mereka sejalan walau mengatakan bahwa surat-surat Paulus ada hal yang sukar dipahami (2 Pet. 3:15-16). 

Memang sudah seharusnyalah demikian, tidak peduli hamba Tuhan besar, hebat, terkenal, tapi kalau salah tetaplah salah. Tidak perlu basa basi, harus langsung ke pokok masalah. Dalam hal ini kita menyadari perlunya rekan sepelayanan yang olehnya ada pelayanan SALING. Saling mengasihi, saling membangun termasuk saling menegur dan menasihati. Betapa malangnya nasib orang yang tidak punya rekan yang berani menegurnya jika salah. Orang seperti ini akan selalu merasa benar lalu terhilang dalam kesalahan. Karena itu, berbahagialah kita jika ada orang yang peduli dan mau menegur jika kita salah, malahan harus menemukan rekan yang seperti itu. Haleluyah. (LS) 

Thursday, May 4, 2023

KEMULIAAN DI BALIK PENDERITAAN

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). 

Sebuah serial TV yang merupakan adaptasi dari drakor The Marriage 0f The World sedikit menggelitik diri saya sehingga terbersit untuk menjadikannya judul renungan hari ini. Apa yang mau saya bagikan di sini adalah bagaimana perilaku dan kehidupan orang yang mendua. Betul, kata Yakobus 1:8, “sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” Inilah yang ditampilkan dalam serial TV tersebut. Ketika sang suami mulai mendua, sejak saat itu hidupnya menjadi tidak tenang. Kebohongan demi kebohongan ia lakukan, konflik mulai terjadi akibat kebohongan ingin yang ditutupi tetapi keduluan tercium oleh istri sah. 

Ada begitu banyak permasalahan terjadi di sekitar kita yang disebabkan perilaku mendua. Ciri-ciri perilaku mendua: 

- Tidak jujur 

Ketika seseorang sudah tidak jujur, maka yang terjadi adalah munculnya krisis kepercayaan. Ini yang menyebabkan konflik dalam berkomunikasi. Akan ada perbantahan atau penyangkalan untuk menutupi perbuatan yang tidak benar. 

- Menghindari fakta 

Orang berperilaku mendua cenderung tidak mau orang lain mengetahui keberadaan dirinya yang sebenarnya. Misalnya: sudah menikah, tetapi berlagak seperti orang yang belum menikah; miskin, tetapi berlagak seperti orang kaya. 

- Suka mencari-cari alasan 

Perhatikan orang yang suka mendua, pasti ia suka mencari-cari alasan. Ketika di cross check, ia selalu punya alasan ini dan itu untuk menutupi perbuatannya. Akan ada perbantahan atau penyangkalan untuk menutupi perbuatan yang tidak benar. 

- Lebih banyak menghabiskan waktu dengan objek lain yang bukan prioritas hidupnya. 

Bisa kita bayangkan peliknya masalah yang terjadi bila berhadapan dengan orang yang berperilaku mendua. Itulah yang diceritakan dalam serial TV tersebut. Sejak suaminya kedapatan mendua, tiada hari dilalui tanpa konflik di dalam hubungan mereka berdua. Konflik demi konflik pun terjadi sehingga mengusik juga kenyamanan hidup orang-orang di sekitar mereka. 

Masih ingat kejatuhan Yudas? Tragis sekali! Akibat mendua antara Yesus dan 30 keping uang perak, hidup Yudas menjadi tidak tenang. Ia dikejar rasa bersalah sehingga harus berakhir gantung diri. Ingat kisah Gehasi bujang Elisa? Akibat mendua antara Elisa dan pemberian Naaman, kusta Naaman mengejar Gehasi. Intinya, tidak ada kehidupan mendua yang berakhir dengan hidup tenang! Pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung!(LA)

Wednesday, May 3, 2023

SEPERTI TAMAN TUHAN

“Lalu, Lot mengarahkan matanya dan melihat seluruh Lembah Yordan, yang terairi dengan baik di mana-mana seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir ke arah Zoar. Keadaan itu adalah sebelum TUHAN membinasakan Sodom dan Gomora. Jadi, Lot memilih bagi dirinya sendiri seluruh Lembah Yordan dan Lot menempuh perjalanan ke timur. Demikianlah keduanya berpisah satu sama lain” (AYT - Kejadian 13:10-11). 

Kalau ditanya mana panca indra kita yang paling menyesatkan, maka itu adalah mata. Mata manusia paling mudah dikelabui, ditipu, dan dimanipulasi. Kejatuhan Hawa juga diawali dengan mata yang melihat buah yang dilarang dimakan itu (Kej. 3:6). Dan Lot juga tertipu oleh matanya untuk memilih bagian wilayah bagi dirinya sendiri untuk segala ternak dan keluarganya. Lot melihat lembah Yordan yang indah serta SEPERTI taman TUHAN. Itu bukan taman Tuhan hanya SEPERTI. Dan Lot terkecoh oleh pandangan matanya untuk tinggal di lembah Yordan yang ternyata itu adalah wilayah orang Sodom. Mereka bangsa yang terkenal jahat dan berbuat apa yang buruk di mata Tuhan. Alkitab katakan, “Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. (Kej.13:13). 

Bangsa Sodom akhirnya akan dimusnahkan langsung oleh Tuhan. Dosa-dosa mereka telah naik ke takhta Allah sehingga Allah turun tangan. Berita tentang kejahatan bangsa Sodom pastinya sudah tersebar ke masyarakat luas. Lot kemungkinan besar tahu mengenai keburukan bangsa Sodom. Tetapi matanya tertutupi oleh keindahan dan keserakahan. Kelak Lot mengalami kerugian besar karena dampak dari penghukuman Sodom dan Gomora yang dekat dengan tempat tinggalnya. Ia juga akan kehilangan istrinya yang menjadi tiang garam. 

Awas, penulis telah memberikan peringatan ini: “KEJELITAAN MENIPU MATA, kecantikan pun tidak kekal...” (Amsal 31:30). Jika matamu memberikan informasi kepadamu untuk melakukan sesuatu berhati-hatilah sebab matamu dapat menipumu. Dunia ini memberikan banyak keindahan yang SEPERTI taman Tuhan. Namun semuanya itu adalah jebakan yang mencelakakan. Waspadalah.(DH) 

Tuesday, May 2, 2023

SANGAT TERJEPIT


Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya (1 Samuel 30:6)

Cerita yang dialami Daud ini panjang dan berbelit; ia lari dan  membelot dari kejaran Raja Saul, lalu ia dan pasukannya bergabung dengan Raja Akhis, orang Filistin. Namun, Raja Filistin dan panglima dari kota lain tak ingin Daud bergabung dengan mereka saat mereka ingin menyerang orang Israel di Yisreel. Daud diminta pulang ke kota penampungan Ziklag. Dalam keadaan lelah karena menempuh perjalanan tiga hari ke kota Ziklag, sesampainya di sana ia mendapati keluarganya dan keluarga dari prajurit yang ikut bersamanya telah ditawan dan kota Ziklag dibakar habis oleh orang Amalek. 

Dalam kesedihan dan tangisan putus asa, rakyat yang juga prajurit Daud menjadi gelap mata lalu menyalahkan Daud dan ingin membunuhnya dengan melemparinya dengan batu. Situasi Daud SANGAT TERJEPIT. Situasi yang membuat siapa pun bisa kehilangan harapan. Tanpa harapan tak ada lagi iman. Sebagai pemimpin, Daud tak punya banyak pilihan. Dia harus lebih waras walaupun dia yang paling terjepit. Dia harus  bertanggung jawab, bukan lari dari kenyataan yang pahit. Putusan Daud bukan menyerah, tetapi berserah, "Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan". Apa maksudnya kalimat ini? Daud kerap mengalami titik kritis dimana tak ada jalan lain, tetapi pilihan Daud tetap sama, menguatkan kepercayaan kepada Tuhan dan tetap mengandalkan Tuhan. 

"Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu;" (Mazmur 56:4). "Aku percaya, sekalipun aku berkata: "Aku ini sangat tertindas" (Mazmur 116:10).

Mengapa keadaan kritis sering dialami Daud? Karena Daud mengemban tugas sebagai pemimpin, sebagai "yang diurapi" sejak masih berstatus gembala perintahan ayahnya. Karena tugas  Daud keras dan tidak biasa, ia sering "melawan arus". Ancaman kematian terus membayanginya. 

Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama (1 Samuel 16:13).

Dalam logika lurus kita, sebagai "yang diurapi" dan disertai oleh Roh TUHAN, seharusnya hanya  kemenangan dan kejayaan yang menjadi pengalaman keseharian Daud, bukan keadaan "SANGAT TERJEPIT", yaitu KETAKUTAN dan TERTINDAS seperti ditinggalkan Allah, bukan pula airmata yang menjadi makanannya siang dan malam. Pantaskah  keadaan "orang yang diurapi" dan disertai Roh TUHAN setragis ini? 

Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku:"Di mana Allahmu?" (Mazmur 42-4) 

Keputusan Daud untuk tidak berputus asa berakhir dengan kemenangan. Ia berhasil mengalahkan orang Amalek dan membawa kembali keluarganya yang ditawan dengan cara dan arahan Tuhan. 

Pelajaran bagi kita sebagai orang Kristen, setiap kita adalah orang yang terpilih dan juga  diurapi. Jika keadaan kita hari ini "SANGAT TERJEPIT", itu adalah situasi yang wajar, bukan berarti Tuhan meninggalkan kita. Kita hanya perlu bertindak seperti Daud, MENGUATKAN KEPERCAYAAN KITA KEPADA TUHAN dan tetap bertindak di dalam arahan dan bimbingan-Nya. (DD)


Monday, May 1, 2023

AKU BUKAN MESIAS

“Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. (29) Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh” (Yohanes 3:28-29) 

Tidak ada yang menyangsikan integritas dan pelayanan Yohanes Pembaptis. Walaupun ia tidak membuat satu pun tanda mujizat, tetapi orang begitu menghormatinya. Karena cara hidup Yohanes yang radikal, banyak orang yang mengira bahwa ia adalah Mesias. Namun, dengan tegas ia berkata bahwa ia bukan Mesias, ia adalah pembuka jalan yang mempersiapkan kedatangan Mesias. 

Ia bukan Mesias, ia menyebut dirinya adalah sahabat mempelai yang mendampingi Sang Mempelai, yaitu Yesus, Sang Mesias. Ia bersukacita penuh telah menjadi pendamping mempelai pria yang menyiapkan pernikahan mempelai, demikianlah Yohanes mengibaratkan dirinya. Itulah sebabnya Ia juga berkata, "Ia harus semakin besar, dan aku harus semakin kecil" (Yohanes 3:30). Yohanes memang harus semakin menepi ketika mempelai pria telah hadir. Perkataannya bahwa ia harus semakin kecil dibuktikan dengan kerelaannya mengijinkan muridnya untuk menjadi murid Yesus. 

(35) Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. (36) Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" (37) Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. (Yohanes 1:35-37) 

Peranan Yohanes Pembaptis sangat luar biasa dan jauh melebihi apa yang kita pikirkan. Bagaimana mungkin ada orang yang sedemikian rupa bekerja keras dan berintegritas, tetapi bukan untuk kesuksesan dirinya sendiri. Bisakah praktek kehidupan Yohanes ini menjadi teladan kita, atau memang hanya Yohanes saja yang terpanggil menjadi orang  yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kesuksesan orang lain? Lalu apa yang didapatkan Yohanes?

Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar dari pada Yohanes (Lukas 7:28) 

Akibat panggilannya yang luar biasa sebagai pembuka jalan, kepala Yohanes terpisah dari tubuhnya. Namun, Yohanes mendapat pujian  yang luar biasa. Yesus mengatakan, di antara  yang dilahirkan perempuan, tidak yang lebih besar dari Yohanes. Pertanyaannya, apakah kita juga bisa memiliki panggilan semulia Yohanes, menjadi pembuka jalan bagi kesuksesan orang lain? Pasti pujian seperti yang diterima Yohanes yang kita harapkan, tetapi jalan hidup sebagai pembuka jalan yang harus mengorbankan diri seluruhnya pastilah bukan cita-cita kita. Bagaimana menurut Anda? (DD)