Sunday, April 30, 2023

SELALU MENDENGKI

“Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka and berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud” (1 Samuel 18:8-9) 

Kebakaran hutan besar tak pernah disengaja, tetapi biasanya disebabkan api kecil. Bisa dari putung rokok yang diterpa angin pada musim kering atau ranting yang membara akibat gesekan antar ranting pohon yang kering. 

Ketika Daud dipuji rakyat melebihi Saul karena prestasinya menang dalam perang, dan para wanita berteriak, “Daud mengalahkan berlaksa-laksa namun Saul hanya beribu- ribu”, maka api iri hati mulai menyala di hati Saul. Saat itu Daud muncul sebagai idola baru, idola para wanita dan generasi muda. Hati Saul belum siap sehingga ia mengijinkan api terus menyala, bahkan semakin membesar di hatinya. 

Berbagai siasat dan jebakan mulai diatur ketika mendengar Mikhal, putrinya, jatuh cinta kepada Daud. Saul meminta Daud memberi mas kawin berupa seratus kulit khatan orang Filistin dengan harapan Daud kalah dan tewas terbunuh dalam perang. Namun, siasat jahat Saul gagal. Sampai akhir hayatnya Saul tak pernah bisa melepaskan dirinya dari kemarahan kepada Daud. Bagai api yang terlanjur membakar hutan, sulit untuk memadamkannya. 

Apakah drama kedengkian seperti yang terjadi pada hubungan Saul dan Daud juga bisa menjadi kenyataan di dalam kehidupan sosial di lingkungan kita? Atau drama ini justru lazim terjadi, bahkan hampir setiap kita pun mengalaminya? Kalau begitu, bagaimana cara “memadamkannya”? Bukankah sebagai orang Kristen seharusnya kita kebal terhadap api kedengkian? Atau dapat dengan mudah memadamkannya sebelum membara?

Penyebab Saul dengki adalah "rasa tidak aman". Dia kuatir jabatan sebagai raja akan terhilang dan jatuh kepada Daud. Ketidaksiapan hati Saul yang berakibat rasa kuatir ini bagai ranting kering yang rawan terbakar. Seharusnya Saul mengembangkan rasa aman bahwa jabatan bukan segala-galanya, artinya akan ada saatnya ia tidak akan menjabat lagi. Ia seharusnya bersyukur karena ada orang muda yang lebih berbakat yang kelak bisa menggantikannya. Mengembangkan rasa aman terus-menerus adalah cara terbaik untuk menjaga hati kita dari api kedengkian, seperti nasehat di dalam Amsal 4:23. ”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” Jika api itu terlanjur menyala, sadari dan cepat padamkan. Karena api kedengkian yang sudah terlanjur membara akan sukar dipadamkan. Apinya bukan hanya membakar orang di sekitar kita, tetapi membinasakan diri kita juga. (DD)

Saturday, April 29, 2023

OPERASI SENYAP

“Pada waktu rumah itu didirikan, dipakailah batu-batu yang telah disiapkan di penggalian, sehingga tidak kedengaran palu atau kapak atau sesuatu perkakas besipun selama pembangunan rumah itu.” (1 Raja-raja 6:7) 

Istilah operasi senyap awalnya berasal dari dunia militer yang bermakna sebuah proses mendekati sasaran musuh dan tindakan penyerangan ke sasaran musuh yang harus dilakukan dalam suasana senyap, sunyi, tidak bersuara, mendadak sehingga musuh diharapkan tidak mendengar dan mengetahui akan adanya serangan, atau bahkan orang sekitar juga tidak mengetahui jika telah terjadi proses penyerangan tersebut. Dalam konteks politik, operasi senyap diartikan sebagai sebuah gerakan-gerakan yang tersembunyi, tidak terlihat untuk melakukan proses lobby, membangun sinergi atau keputusan politik. Bahkan seringkali proses senyap ini juga tidak terendus oleh dunia media. 

Firman Tuhan yang kita baca hari ini menggambarkan proses Salomo membangun bait Allah yang megah. Namun yang mengejutkan digambarkan bahwa selama proses ini tidak terdengar suara yang ribut dalam proses pembangunannya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Firman Tuhan menggambarkan bahwa ternyata proses pembangunan ini menggunakan berbagai jenis batu-batuan yang telah diolah atau diproses dan dibentuk di tempat-tempat penggalian tersembunyi. Jadi saat waktunya tiba, maka batu-batu yang sudah dibentuk ini dikeluarkan dan disusun menjadi bait Allah yang begitu megah. 

Firman Tuhan di 1 Pet 2:5 menyatakan bahwa kita digambarkan sebagai batu-batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani. Pertanyaannya siapkah kita dibentuk oleh Tuhan dalam proses-proses yang senyap? Artinya siapkah kita mengalami proses-proses Tuhan yang kerap menempatkan kita di mana tak seorangpun tahu, bahkan tak seorangpun mengerti. Atau kita kerap justru mem'pansos'kan semua proses-proses yang kita alami di berbagai media sosial kita? Kita seperti sedang ingin menunjukkan pada dunia luas akan semua proses-proses berat yang kita alami, perasaan-perasaan kita, bahkan ada yang menuliskan doa-doa pergumulan pribadi di media sosial yang seolah bermakna biarlah Tuhan membaca status doa media sosial saya dan berharap orang lain juga mengerti secara tersirat pergumulan, perjuangan hidup kita. 

Yesus, dalam karya misi-Nya menyelamatkan kita, kerap digambarkan berada dalam kondisi-kondisi tidak popular. Ia lahir di tempat yang digambarkan sebuah tempat yang sunyi. Ia harus mengalami proses 40 hari di padang gurun sendirian. Dalam Perjanjian Lama, Allah mentransformasi Yakub menjadi Israel saat ia berada di titik sendiri. Jika saat ini Anda kerap merasa sedang menjalani proses pembentukan Tuhan, mari kita berespon dengan benar. Sadarilah bahwa Allah tidak pernah tinggalkan kita. Justru dalam kesenyapan dan kesendirian itulah IA sedang mempersiapkan kita. Siapkah kita? (HA) 


Friday, April 28, 2023

JALUR SIGNAL HIPPO DAN JANTUNG

“Apakah lenganmu seperti lengan Allah, dan dapatkah engkau mengguntur seperti Dia? (Ayub 40:9) 

Sinyal hippo merupakan system regulasi pada tubuh embrio yang mengatur agar perkembangan organ dalam tubuh berhenti setelah mencapai ukuran tertentu. Mutasi pada sinyal hippo akan membuat jaringan menjadi bertumbuh dengan ukuran yang sangat besar menyerupai hippopotamus (kuda nil). Sinyal hippo sangat diperlukan untuk perbaikan organ yang rusak. Sel otot jantung manusia yang rusak tidak dapat kembali normal (meninggalkan kerusakan yang permanen) akan tetapi jantung ikan zebrafish yang dipotong 20% masih bisa tumbuh kembali seperti semula. Hal ini karena ikan zebrafish memiliki sinyal hippo, sedangkan sinyal hippo pada manusia hanya dimiliki saat embrio. Manusia dewasa tidak memiliki sinyal hippo. Dapat dikatakan bahwa ikan zebrafish memiliki kemampuan untuk memperbaiki “broken heart” sedangkan manusia tidak mampu. 

“Broken heart” dalam arti kata sebenarnya maupun dalam arti kata kiasan memiliki konsekuensi yang mematikan. Dalam arti kata sebenarnya, broken heart disebabkan oleh penyakit jantung koroner yang menyebabkan kematian sel otot jantung yang permanent. Sel otot jantung yang mati tidak bisa diperbarui karena manusia dewasa tidak memiliki jalur hippo sehingga meninggalkan cacat permanent dan seringkali menimbulkan kematian. Broken heart dalam arti kiasan yaitu patah hati juga mematikan. Banyak orang sengaja memilih jalan hidup yang menyengsarakan oleh karena broken heart bahkan dapat berujung kepada deperesi dan bunuh diri. 

Jalur hippo memang tidak kita miliki akan tetapi kita punya Tuhan yang lebih kuat daripada hippo. Ayub 40:10-19 menggambarkan bahwa hippo (kuda nil) merupakan binatang yang sangat kuat yang walaupun makan rumput seperti lembu akan tetapi tenaganya sangat besar, kerangkanya seperti batang besi. Tuhan menggambarkan kekuasaanNya kepada Ayub dengan ilustrasi bahwa orang tidak dapat menangkap hippo dan tidak memiliki kekuatan seperti lengan Allah (Ayub 40:9). Allah yang lebih kuat dari hippo pasti juga mau menciptakan kembali “jalur hippo” dalam kehidupan kita. 

Bagi saudara yang broken heart dalam arti kata sebenarnya (sakit jantung), Allah bisa menyediakan kemampuan regenerasi yang tidak kalah dengan ikan zebrafish. Dalam anugerah Yesus, sel otot jantung yang sudah mengalami kematian akan digantikan dengan sel yang baru sama seperti jantung ikan zebrafish. Bagi mereka yang mengalami broken heart dalam arti kata kiasan (patah hati), Allah pasti menyembuhkan luka hati yang dialami seperti kata Mazmur 147:3, “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.” Penelitian tentang jalur hippo masih berlangsung. 

Peneliti berharap bahwa suatu saat sel jantung yang rusak akan dapat diperbarui. Akan tetapi bagi anak Tuhan, tidak perlu menunggu keberhasilan penelitian tersebut, karena jalur hippo yang dapat memperbaiki broken heart sudah tersedia bagi kita melalui nama Yesus. Amin! (WS) 

Thursday, April 27, 2023

ORANG BIASA TAPI HEBAT

“Akan tetapi, Stefanus yang dipenuhi oleh Roh Kudus menatap ke langit dan melihat kemuliaan Allah, dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Dan, mereka terus merajam Stefanus yang sedang berseru dan berkata, “Tuhan Yesus, terimalah rohkui Kemudian, setelah berlutut, ia berseru dengan suara keras, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan, sesudah mengatakannya, ia pun mati” (AYT - Kisah Para Rasul 7:55, 59-60). 

Stefanus ini bukanlah orang hebat yang dipilih untuk berkhotbah di mimbar tapi orang biasa yang dipilih untuk melayani orang-orang miskin di masa gereja mula-mula. Bukankah selama ini biasanya hamba Tuhan yang dipuja dan memiliki follower yang banyak adalah mereka yang berdiri di mimbar sebagai pelayan Firman Tuhan atau pemimpin pujian? Hampir tidak pernah ada tempat yang mulia bagi mereka yang pelayanannya hanya sekadar mengurus hal-hal yang dianggap kecil, termasuk kunjungan bagi orang-orang miskin. Namun berbeda dengan Stefanus. Dia terpilih untuk melayani orang miskin, namun dia dikenal baik serta penuh dengan Roh Kudus dan hikmat Allah (Kis. 6:3). 

Akibat orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah keberaniannya berbicara mengenai kebenaran dan memberitakan Injil tanpa takut. Dan ia tidak takut berbicara tentang kebenaran dan dengan panjang lebar menjelaskan sejarah bangsa Israel dan ketegaran orang Israel saat mereka menolak kehadiran Sang Juru Selamat. 

Kata-katanya yang pedas itu membuat murka para pemimpin agama dan mereka menyeretnya ke luar kota dan melemparinya dengan batu sampai mati. Kalau seandainya Stefanus ditembak di kepala tentunya ia mati seketika tanpa mengalami rasa sakit. Tetapi kalau itu dirajam batu, maka kematiannya adalah secara perlahan-lahan dan pasti mengalami penderitaan karena kesakitan akibat lemparan batu tersebut. Dalam puncak kesakitannya itulah kasih itu muncul dan pengampunan diucapkan oleh Stefanus kepada para perajamnya, "Tuhan jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka." Kata-kata pengampunan ini sama seperti Gurunya, yaitu Yesus, yang juga mengampuni para penyalib-Nya (Luk. 23:34). 

Orang yang dipenuhi Roh Kudus akan mengucapkan pengampunan dan kasih juga semakin berkobar. Dan darah Stefanus menjadi benih yang subur bagi dimulainya kegerakan penginjilan yang akan menyapu seluruh dunia.(DH) 


Wednesday, April 26, 2023

MENGEMBANGKAN KARUNIA IMAN

“Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan” (Ibrani 11:24-27). 

Perjalanan spiritual Musa di mulai ketika ia memutuskan menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Saya percaya Musa bisa mengambil keputusan yang ekstrim seperti itu karena Allah telah memberikan karunia iman kepada Musa. 

Karunia iman membawa perubahan yang besar di dalam kehidupan Musa. Karunia iman telah membentuk manusia rohani Musa menjadi kuat dan dewasa, sekali pun mungkin saat itu ia belum terlalu memahami definisi iman seperti apa. Tetapi, saya percaya Allah lah yang telah mengaruniakan iman kepadanya, sehingga ia dapat mengambil keputusan yang ekstrim. 

Iman tiap-tiap orang tidak sama kadarnya, demikian pula kedewasaan rohani tiap-tiap orang tidaklah sama. Iman seseorang bertumbuh atau tidak, tergantung bagaimana tiap-tiap orang mengembangkan karunia iman tersebut. Surat Ibrani 11 berkata: “Karena iman, Musa tidak lagi memikirkan hal-hal yang duniawi, ia tidak lagi mengarahkan pandangannya kepada Mesir, tetapi kepada UPAH”. Demikian halnya bagi orang yang mengembangkan karunia iman, akan membawanya memandang segala sesuatu dengan kacamata iman. Ukuran yang ia pakai bukan lagi hal-hal jasmani, melainkan hal-hal rohani. Makanya bagi orang-orang yang imannya belum sampai ke sana, maka pasti akan mengalami benturan-benturan atau konflik batin. 

Cara pikir, cara pandang, cara hidup orang yang mengembangkan karunia iman sangat berbeda dengan orang yang masih kanak-kanak di dalam kerohanian, dan yang imannya belum sampai di sana. Hanya karunia iman yang memampukan seseorang mengingini perkara sorgawi lebih dari perkara duniawi. Hanya karunia iman yang sanggup menumbuhkan cinta seseorang kepada Kristus lebih dari perkara-perkara yang fana. Hanya karunia iman yang membawa orang percaya sampai kepada kekekalan, yaitu iman kepada Anak Allah di dalam Yesus Kristus Tuhan. 

Pada akhirnya, Yesus pun mempertanyakan, "Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8b). Pastikan setiap kita mengembangkan karunia iman seiring pertumbuhan kerohanian kita. Iman bertambah melalui pengenalan akan Allah yaitu suka membaca dan merenungkan firman-Nya. Iman bertambah ketika kita masuk di dalam proses pendewasaan rohani - diuji - dimurnikan - dibenarkan. (LA) 

Tuesday, April 25, 2023

SPECIAL EDITION TAPI GRATIS

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:23-24). 

Banyak di antara kita yang senang kalau saat berbelanja ke mal ada tertulis, JUAL OBRAL, SALE!, BELI 1 GRATIS 1 karena ini artinya harga barang didiskon 50%. Namun,  berdasarkan pengalaman, barang yang didiskon besar seperti itu biasanya tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, ukurannya tidak lengkap atau modelnya yang sudah out of date. Artinya, barang yang didiskon adalah barang yang kualitasnya sudah tidak bagus. Apalagi yang diskonnya sampai 80%, biasanya memiliki cacat atau pilihannya sangat terbatas. 

Itu sebabnya barang sale dengan diskon besar, apalagi gratis, kurang disukai oleh orang-orang yang punya uang karena kualitas dan modelnya pasti tidak sesuai yang diharapkan. Mereka lebih suka barang yang Special Edition atau Limited Edition, berapa pun harganya akan dibeli. 

Ayat di atas berbicara tentang penebusan Kristus dengan cuma-cuma alias gratis. Penebusan dilakukan Kritus karena Ia ingin mengembalikan kemuliaan Allah yang telah hilang dari kehidupan umat manusia akibat dosa. Namun, walaupun kita terima dengan gratis, karya penebusan Kristus ini bukanlah hal yang murahan. Tetapi ada saja orang meremehkan dan menganggap pengorbanan Kristus sebagai hal yang murahan. Benarkah karya pengorbanan Kristus sesuatu yang murahan? 

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. (1 Petrus 1:18-19) 

Rasul Petrus menuliskan, karya pengorbanan Kristus di kayu salib begitu mahal sehingga tak seorang pun sanggup membayarnya. Tak seorang pun layak dan sanggup melakukannya selain Kristus sendiri. Ia telah membayar dengan darah-Nya sendiri, darah yang mahal, yang lebih berharga dari emas dan perak. Itu sebabnya, karena tak ada seorang pun yang sanggup membayarnya, maka Ia anugerahkan secara gratis, cuma-cuma. Sekali lagi, Ia melakukannya karena kita tak akan sanggup membayarnya. Darah-Nya teramat mahal dan berharga sehingga pengorbanan-Nya gratis, tetapi sangat berharga, special edition. Apakah Anda mau menerima-Nya? (DD) 

Monday, April 24, 2023

FIRMAN TUHAN TAK BERUBAH METODE HARUS SELALU BERUBAH

“Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kisah Para Rasul 17: 22-23). 

Rasul Paulus adalah seorang Rasul yang fenomenal. Ia memahami budaya Yahudi dan juga Yunani, itu sebabnya melalui Rasul Paulus berita Injil menyebar sampai ke ujung bumi. Berita Injil sampai ke Eropa yang saat itu berbahasa Yunani. Penginjilan yang dilakukan Rasul Paulus lintas bangsa, bahasa, dan budaya ini karena selain mempelajari filsafat Yunani, Rasul Paulus juga memahami bahwa metode penyampaian Firman Tuhan boleh berubah, tetapi kebenaran tak boleh berubah. Ia adalah orang yang out of the box, artinya memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang pada umumnya. Ia mampu belajar dan beradaptasi, tetapi tidak merubah inti kebenaran Firman Tuhan. 

Nilai kebenaran yang terkandung di dalam Firman Tuhan tidak boleh berubah selamanya, tetapi metode pemyampaian harus berubah dalam tiap generasi dan jaman karena setiap generasi dan jaman mempunyai budaya dan cara berpikir yang berbeda. Saat itu, ketika Rasul Paulus ke kota Atena, dia melihat banyak patung dewa dengan banyak nama. Ia memikirkan cara untuk bisa menjelaskan imannya, kemudian ia menjumpai mezbah tanpa patung dengan tulisan di atasnya: "KEPADA ALLAH (DEWA) YANG TAK DIKENAL". Dan melalui mezbah "dewa tanpa nama" inilah Rasul Paulus menjelaskan tentang Kristus secara relevan dengan cara berpikir dan budaya orang Yunani di kota Atena. 

Mengapa metode Rasul Paulus menceritakan Tuhan kepada orang Yahudi dan orang Yunani berbeda? Rasul Paulus memakai pengetahuan dan kreatifitasnya untuk terhubung dan relevan dengan budaya setempat. Ini dibuktikan dengan pernyataannya di bawah ini: Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (1 Kor 9: 20-21) 

Rasul Paulus bukan plin-plan atau tak berpendirian, tetapi ia berlaku bijak demi memenangkan banyak jiwa. IA BERPRINSIP, KEBENARAN FIRMAN TUHAN TAK BOLEH BERUBAH, TETAPI METODE MENYAMPAIKAN HARUS SELALU BERUBAH SESUAI KONDISI. Anda setuju? (DD) 


Sunday, April 23, 2023

PENERIMA BEASISWA

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20) 

Beberapa waktu yang lalu terjadi perbincangan di salah satu radio swasta di Surabaya membahas pernyataan Menteri Keuangan RI mengenai penerima beasiswa dari pemerintah yang studi di luar negeri. Ternyata banyak yang tidak pulang dan memilih menetap di luar negeri dengan alasan sudah mendapatkan pekerjaan yang baik. Tentu saja hal ini bermasalah dan melanggar kewajiban yang mereka sudah sepakati sebelumnya. Mereka telah dibiayai dengan biaya yang mahal dengan kewajiban untuk kembali dan berkarya bagi kepentingan membangun bangsa dan negara. Jika tidak, akan ada sanksi yang dikenakan sesuai ketentuan yang ada. Namun ternyata banyak yang rela terkena sanksi dan bersedia mengembalikan biaya pendidikan yang telah mereka terima. 

Segera bermunculan berbagai komentar yang pada umumnya menyalahkan para penerima beasiswa sebagai orang-orang yang tidak tau balas budi. Walau ada juga yang lebih netral dengan mempertanyakan apakah pemerintah telah membuat sistem yang jelas agar mereka yang telah dibiayai dapat kembali dan ada kepastian karir mereka. Dan tentu saja seperti biasa, hanya sebatas wawasan dan tidak untuk mencari solusi. 

Bagi orang yang telah menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, maka kasih karunia menjadi seperti beasiswa yang diberikan secara gratis. Pemberian kasih karunia itu menghasilkan karunia sebagai kemampuan untuk menjadi pengurus yang baik untuk melayani orang lain dalam berbagai macam bentuk pelayanan. Kemampuan ini seharusnya digunakan untuk kemuliaan atau keuntungan Allah seperti yang tertulis dalam 1 Petrus 4:11; Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin. 

Namun, banyak orang yang tidak menyadari kalau ada 'ikatan dinas' menjadi penerima kasih karunia. Sejak seseorang menerima kasih karunia Allah, sejak itulah dirinya telah menjadi milik Allah sepenuhnya yang akan berguna bagi orang lain untuk kemuliaan Tuhan Allah (baca 1 Korintus 6:20). Namun seperti biasa, orang lebih sibuk dengan urusan dirinya sendiri, masalahnya, cita-cita dan harapan-harapan masa depannya. Ataupun kalau merasa membutuhkan Tuhan, hanya sebatas karena dirinya ada keperluan. Karena itu sadarilah, ada orang lain yang membutuhkan dirimu. Haleluya. (LS) 

Saturday, April 22, 2023

PASUKAN YANG LAHIR DARI RUMAH

“Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan” (Kejadian 14:14) 

Keikutsertaan Lot menimbulkan banyak persoalan bagi Abraham. Lot memilih Lembah Yordan sebagai tempat tinggalnya dan itu bermasalah besar. Mereka ditawan oleh musuh dan harta bendanya dirampas. Tidak akan ada yang bisa menolong kecuali pamannya yaitu Abraham. 

Cara Abraham menolong tidaklah melakukan upaya untuk menyewa pasukan atau tentara bayaran. Namun Abraham mengerahkan orang-orang yang terlatih, yaitu mereka yang lahir di rumahnya. Mereka adalah keluarga sendiri yang dididik, dibina, dilatih, dan disiapkan untuk peperangan sehingga dalam segala situasi mereka siap untuk menghadapi keadaan yang terburuk. Abraham dan orang-orangnya yang “terlatih” berhasil mengalahkan musuh yang telah menawan Lot beserta seluruh harta benda yang dirampas musuh. Para pelayan itu lahir dan besar di rumah Abraham. Mereka telah dilatih dan dipersiapkan dengan sangat baik oleh Abraham sejak dari lahirnya untuk mengurus harta benda milik Abraham, terutama kambing domba miliknya. Pengetahuan, fisik dan mental mereka telah terlatih dalam menghadapi situasi kondisi yang sulit di padang gurun, dalam menjaga harta benda yang ada, baik dari tangan penyamun maupun dari ancaman binatang buas. Oleh sebab itu tidaklah heran, jika mereka bisa menang dalam peperangan melawan musuh. 

Gereja juga harus membangkitkan generasi-generasi yang terdidik, terlatih, dan disiapkan untuk menghadapi dunia yang semakin buruk ini. Mereka punya karunia dan talenta untuk dikembangkan dan dilatih. Gereja dan rumah adalah tempat pelatihan buat mereka. Mereka diberikan kesempatan untuk berkembang dalam karunia roh dan talenta bagi kemuliaan Allah kita. 

Kita harus membangkitkan pasukan sendiri dari keluarga sendiri untuk menjadi pasukan yang memuliakan Allah dan terdidik untuk hidup kudus dan benar serta segala talenta dan karunia rohani digunakan untuk kemuliaan Bapa di surga.(DH)

Friday, April 21, 2023

SURAT REKOMENDASI

 “Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu? Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (2 Korintus 3:1-2) 

Surat rekomendasi diperlukan oleh seseorang bila melamar pekerjaan. Surat rekomendasi ini biasanya berasal dari perusahaan tempat bekerja sebelumnya atau dari orang lain yang mengenal reputasi kita dengan baik. 

Rasul Paulus memberi sebutan jemaat Korintus sebagai "surat rekomendasi " pelayanannya. Artinya, jika orang meragukan pelayanan Rasul Paulus, maka untuk membuktikan hasilnya orang bisa melihat jemaat Korintus yang telah menjadi pengikut Kristus. Rasul Paulus menulis bahwa jika orang lain perlu menunjukkan surat rekomendasi (surat pujian) untuk bisa diterima oleh jemaat Kristen di daerah lain yang belum dikenal, maka bagi Rasul Paulus, perilaku jemaat di Korintus sudah cukup sebagai "surat rekomendasi" yang secara terbuka dapat dibaca semua orang. 

Lawan dari menjadi "surat rekomendasi" adalah menjadi "batu sandungan". Artinya, melalui tindakan kita, orang bukan semakin percaya kepada Kristus, tetapi jadi semakin meragukannya. 

"Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah (1 Kor. 8:8-9) 

Bagi orang Kristen, tidak ada makanan yang mengakibatkan kualitas iman berkurang, tetapi bagi orang Kristen baru yang berlatar belakang Yahudi, makan makanan bekas persembahan berhala adalah larangan. Karena itu, Rasul Paulus menyarankan agar tidak makan makanan bekas persembahan berhala di depan mereka. Jangan sampai apa yang kita lakukan menjadi sandungan bagi mereka yang lemah. 

Tentu saja daftar makanan yang bisa menjadi batu sandungan bisa diperpanjang dan banyak kebebasan perilaku kita di dunia saat ini yang bisa jadi batu sandungan. Itu sebabnya, kita harus menjaga kebebasan kita sebagai orang Kristen untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang yang masih lemah secara iman. 

Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat. (1 Kor. 9:21) 

Puncak keteladanan Rasul Paulus luar biasa. Untuk bisa memenangkan orang dengan latar belakang budaya Yahudi ataupun Romawi, ia rela menjadi seperti mereka, ia mengikuti budaya mereka, Yahudi maupun Romawi, tanpa melanggar kebenaran imannya. Jadi, pesan untuk kita semua hari ini, jadilah surat terbuka yang bisa dibaca semua orang, jangan menjadi batu sandungan bagi orang yang baru percaya, dan menangkan banyak jiwa dengan cara menerima mereka apa adanya dengan menjadi seperti mereka tanpa menggadaikan iman kita. Anda setuju? (DD) 

Thursday, April 20, 2023

SADAR DIRI

“Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan” (Amsal 15:33) 

Setiap orang rindu mengalami perubahan dalam hidupnya. Perubahan tidak dimulai dari orang lain namun dari diri kita sendiri. Orang yang mau berubah akan mengalami pertumbuhan. Salah satu kunci pertumbuhan rohani kehidupan kita adalah mengenali siapa diri kita yang sejati. Hal mengenali siapa diri kita yang sejati dapat dimulai dari kemauan untuk sadar diri. Hal apa saja yang harus kita lakukan agar kita bisa benar-benar sadar diri? 

Yang pertama, mulai dari hal-hal yang kita sukai. Kita sering mendengar ungkapan, 'Do what you love and love what you do' yang artinya lakukan apa yang Anda sukai dan sukai apa yang Anda lakukan. Memulai sesuatu pekerjaan dan pelayanan dari hal-hal yang kita sukai adalah merupakan hal yang sangat mendasar. Sebenarnya hal ini tidaklah terlalu sukar untuk dilakukan, kita hanya perlu memiliki kemauan diri dan kesadaran diri kapan mulai melakukannya. Seringkali kita banyak perencanaan namun kendalanya adalah kita tidak segera melakukannya. Kita seringkali terlalu banyak teori namun tidak segera melaksanakannya. Memang benar ungkapan, 'Jika Anda gagal membuat perencanaan sebenarnya Anda sedang merencanakan kegagalan'. Itu sebabnya jika kita sudah menyukai apa yang akan kita kerjakan maka kita harus segera melakukannya. Jangan hanya menyukai apa yang kita kerjakan namun kita juga harus melanjutkan dengan gairah dalam melakukannya. 

Yang kedua, lanjutkan dengan hal-hal yang menjadi gairah kita. Gairah adalah bahan bakar yang kita peroleh secara gratis dari TUHAN. Jika kita harus membeli bensin atau solar untuk kendaraan yang kita tumpangi, maka gairah adalah berkat TUHAN yang istimewa. Gairah memberikan banyak keuntungan bagi kita saat mengerjakan hal-hal yang kita sukai. Orang yang memiliki gairah yang berapi-api adalah orang yang menyadari bahwa ia hidup di dalam TUHAN. 

Yang ketiga, melangkah menuju tujuan hidup kita yang sejati. Kita tidak dapat menggenapi tujuan hidup kita tanpa menyukai apa yang menjadi tujuan hidup kita. Seringkali kita menyadari bahwa tujuan hidup yang diberikan TUHAN kepada kita tidak sesuai dengan apa yang kita sukai dan seringkali kita tidak memiliki gairah untuk melakukan tujuan hidup kita. Itu sebabnya menyukai apa yang kita kerjakan dan memiliki gairah dalam mengerjakan apa yang menjadi tujuan hidup kita adalah sangat penting. Sekalipun kita tidak tahu ke mana kita akan melangkah, namun kita mengenal siapa yang memberikan dan mengarahkan tujuan hidup kita. 

TUHAN yang memberikan tujuan hidup kepada kita pasti akan mengarahkan kita melangkah untuk menyelesaikan tujuan hidup kita satu per satu. Milikilah kesadaran bahwa setiap orang diberikan tujuan hidup yang berbeda oleh TUHAN. Bagian kita adalah belajar setuju dengan TUHAN dan melangkah bersama dengan TUHAN. Oleh sebab itu mari kita hidup dalam takut akan TUHAN sehingga hikmat dan tuntunan-NYA semakin nyata dalam kehidupan kita. (DW) 


Wednesday, April 19, 2023

MUKJIZAT OTW (ON THE WAY)

“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir” (Lukas 17:14). 

Firman Tuhan yang kita baca hari ini menceritakan tentang 10 orang kusta yang awalnya bhegitu ragu untuk datang kepada Yesus, karena tuntutan moral dan sosial yang membuat mereka biasanya menjadi kelompok masyarakat yang dimarjinalkan atau bahkan diisolasikan. Dalam keadaan sakit yang dianggap pada masa itu sebagai aib yang luar biasa, mereka hanya mencoba untuk berseru dan berteriak agar Yesus berkenan menyembuhkan mereka. Yesus menjawab seruan mereka justru dengan menyuruh mereka menghadapi tantangan terbesar mereka yang selama ini paling mereka takuti, hindari, yaitu dikucilkan, disingkirkan oleh tokoh-tokoh masyarakat terutama para Imam Yahudi. 

Dalam situasi psikologis yang jelas tidak mudah, karena saat itu mereka belum langsung melihat kesembuhan diri mereka, Yesus malah menyuruh mereka untuk berjalan menemui para Imam. Tetapi meskipun demikian mereka taat, dan dalam proses tindakan ketaatan itulah ternyata mujizat terjadi. Yesus sedang menunjukkan bahwa proses iman terhadap pertolongan Tuhan sering terjadi saat kita tidak pasif, tetapi berani bertindak atau melakukan sesuatu. Banyak orang berharap mujizat keuangan dengan hanya berdoa dan setelah itu pasif menunggu datangnya berkat keuangan, atau ada orang yang berdoa minta disembuhkan dari penyakit, dengan hanya berdoa dan duduk pasif. 

Yesus menunjukkan mujizat kesembuhan kepada orang kusta ini melalui sebuah proses tindakan. Jika seorang petani berdoa kepada Tuhan agar memberinya hujan, tindakan apakah yang menunjukkan sebuah respon iman atau rasa percaya kepada Tuhan? Yaitu, yang pertama hanya berdoa dan menunggu hujan datang? Ataukan kedua, petani ini ambil tindakan untuk membersihkan saluran saluran airnya, membajak tanah agar siap menampung air hujan jika tercurah kapanpun? 

Dalam kisah di Markus 8:23-26 diceritakan bahwa Yesus menyembuhkan orang buta yang ditandai dengan serangkaian proses, yaitu membawa orang tersebut keluar dari kampung, meludahi mata orang tersebut, menumpangkan tangan untuk yang pertama kalinya, dan karena masih belum pulih sempurna, Yesus kembali menumpangkan tangan atas orang buta tersebut hingga orang tersebut sembuh dan melihat dengan jelas. Jadi apakah yang bisa kita pelajari? Seberapa sering kita berharap mujizat atau pertolongan Tuhan yang bersifat instant, dan langsung komplit, yang kemudian menjadi tidak sabar, marah saat pertolongan Tuhan nampaknya belum langsung terjadi. Marilah kita tetap percaya bahwa Allah pasti bekerja bukan sekedar menolong kita, tetapi mengubahkan kualitas hidup kita. Anda siap? (HA) 

Tuesday, April 18, 2023

MENGEMBANGKAN KARUNIA MEMIMPIN

"Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu” (Ibrani 13:7,17) 

Tiap-tiap orang percaya diberikan karunia seperti yang Tuhan kehendaki, minimal 1 karunia. Orang yang paling peka melihat karunia yang kita miliki adalah pemimpin rohani kita. Oleh sebab itu, kita patut bersyukur bila berada di dalam kepemimpinan orang-orang yang takut akan Tuhan. Rasul Paulus mengatakan; “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu....”. 

Nah, bagaimana bila kita ada di posisi yang menerima karunia sebagai orang yang memimpin? Apa yang harus kita lakukan untuk mengembangkan karunia memimpin? 

1. Ingatlah akan pemimpin-pemimpin yang telah menyampaikan Firman Tuhan. 

2. Perhatikan akhir hidup para pemimpin kita. 

3. Taatilah para pemimpin kita. 

4. Tunduklah kepada para pemimpin kita. 

Kata "Ingatlah" di situ berarti ada unsur penekanan supaya kita tidak lupa/tidak lalai dengan apa yang para pemimpin kita telah ajarkan kepada kita melalui Firman Tuhan yang mereka sampaikan. Kita bisa sampai di titik ini, tidak lepas dari arahan, bimbingan dari para pemimpin kita (baca: gembala kita, mentor kita, bapa rohani kita). 

"Perhatikan akhir hidup mereka" mengandung arti bahwa ada legacy yang mereka tinggalkan pada kita anak-anak rohaninya. Bagaimana kehidupan para pemimpin kita? Ikutilah nilai-nilai Kebenaran yang mereka teladankan, tangkap setiap hal-hal yang baik yang mereka empartasikan kepada kita. Pemimpin kita adalah orang yang dipercaya Tuhan untuk memegang otoritas. Itulah sebabnya kita harus taat kepada mereka. 

Kata "taat" di sini kita melakukan apa yang didelegasikan atau diamanatkan dengan rasa hormat dan tulus. Ketaatan haruslah disertai dengan penundukan diri. Kata taat berarti, melakukan apa yang diperintahkan suka/tdk suka. Sedangkan kata tunduk berarti tidak ada persungutan di dalamnya, dengan sukacita dan rela hati melakukan apa yang diperintahkan. 

Seorang pemimpin mengemban tanggung jawab yang basar, tidak hanya di hadapan manusia tetapi di hadapan Allah juga. Pemimpin bertanggung jawab atas keselamatan orang-orang yang dipimpinnya. Merekalah yang berjaga atas jiwa domba-domba yang dipimpinnya. Itulah sebabnya jangan sampai ada pemberontakan atau pembelotan terhadap pemimpin di dalam diri kita. Karena, bila itu terjadi, maka urusannya bukan lagi kita dengan pemimpin di dunia, tetapi kita dengan Allah sendiri. Mari miliki rasa kasih, hormat, dan ketulusan terhadap para pemimpin rohani kita. (LA) 

Monday, April 17, 2023

KUDA ADALAH HARAPAN PALSU

“Raja tidak diselamatkan oleh besarnya pasukan; seorang pahlawan tidak dilepaskan oleh kekuatannya yang besar. Kuda adalah harapan palsu bagikemenangan; walau dengan semua kekuatannya yang besar, ia tidak bisa menyelamatkan” (AYT - Mazmur 33:16, 17). 

Banyak orang bilang kalau uang itu bisa membeli segalanya dan ia diibaratkan sebagai kekuatan yang tak tertandingi. Bayangkan, tanah yang luas bisa dibeli, rumah yang megah bisa dibeli, hotel yang mewah bisa ditinggali, bahkan hukum bisa dibeli karena ada oknum-oknum yang masih doyan duit. 

1 Timotius 6:10 mengatakan, "Karena cinta uang adalah akar segala jenis kejahatan." Bukan uangnya yang berdosa tetapi cinta uang itu yang membawa celaka. Ibrani 13: 5 memberi tahu kita, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Tidak mungkin mereka berjalan bersama Yesus jika kekayaan lebih penting daripada yang lainnya. Sebab Tuhan Yesus tidak mau ada orang yang mendua hati. 

Ada pepatah mengatakan “Uang bukanlah segala-galanya”, tetapi dalam kehidupan kita pepatah tersebut berubah menjadi “Uang bukanlah segala-galanya tetapi segala-galanya butuh uang.” Dan jangan heran jika uang ini menjadi dambaan banyak orang karena mereka percaya bahwa uang konon dapat diharapkan dalam masa-masa yang sulit. Namun ini tidak sepenuhnya benar bahkan dapat menyesatkan. Musim pandemi kemarin terbukti uang tidak mampu membeli segalanya bahkan kesehatan. Banyak orang berduit terkapar dan tak berdaya meskipun uang melimpah karena virus merajalela dan membunuh banyak orang miskin dan kaya. 

Jangan pernah bersandar kepada harta yang melimpah, karena sesungguhnya hanya mereka yang bersandar kepada Allah yang akan luput dari malapetaka kematian kekal. Meskipun saat ini persoalan tetap ada, namun hati tetap lapang dada karena ada penghiburan yang tersedia bagi mereka yang mengasihi-Nya. Tuhan mencari orang-orang yang takut akan Dia supaya Ia dapat melimpahkan kekuatan dan penghiburan-Nya.(DH)

Sunday, April 16, 2023

TELANJANG DI HADAPAN TUHAN

_Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."" (Ibrani 4:12-13) 

Salah satu sifat Allah adalah Mahatahu sehingga tak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Artinya, bagi Tuhan, segala sesuatu yang kita pikirkan, rencanakan dan perbuat, semuanya Ia ketahui. Kita semua telanjang di hadapan Tuhan. Namun, seringkali kita tidak menyadari bahwa kemahatahuan Tuhan seharusnya membawa dampak bagi perilaku keseharian kita. Sama halnya secara pengetahuan kita tahu bahwa Tuhan Mahakasih dan terbukti dengan karya penebusan-Nya di kayu salib, namun apakah pengetahuan kita tentang Tuhan Yang Maha Kasih berdampak kepada perilaku kita menjadi semakin baik? 

Pengetahuan umum bahwa Tuhan Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahakasih seringkali tak membawa dampak apapun, malah hanya membuat seseorang menjadi munafik, artinya apa yang diketahui tidak selaras dengan apa yang dilakukan. Apa yang bisa membuat seseorang berubah selaras dengan apa yang dipahaminya tentang Tuhan? Yang bisa membuat perubahan bukan sekedar pengetahuan tentang Tuhan, tetapi mendengar Firman-Nya atau perkataan-Nya secara personal, seperti Tuhan sedang berkata-kata secara pribadi kepada kita. Perkataan Allah secara personal kepada kita sanggup memisahkan jiwa dan roh, artinya membangkitkan kesadaran yang bersumber bukan hanya dari jiwa, tetapi dari roh manusia. Karena kesadaran rohani adalah kesadaran yang terdalam di roh manusia. Dikatakan, Firman Tuhan sanggup membedakan pertimbangan pikiran dan hati kita (and is a discerner of the thoughts and intents of the heart). 

Ketika kebenaran Firman Tuhan secara kuat berbicara di hati kita, bukan hanya di pikiran kita, maka yang terjadi bukanlah pengetahuan, tetapi pewahyuan atau pencerahan. Ketika pewahyuan terjadi maka kesadaran rohani terdalam yang digugah, dan inilah yang disebut pertobatan, yaitu terjadi perubahan yang mendasar dari hati. Kesadaran yang bersumber dari hati atau pewahyuan yang akan membuat seseorang sadar akan siapa dirinya sesungguhnya di hadapan Tuhan. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, tetapi kita merasa damai. Inilah yang disebut perjumpaan dengan Tuhan. Dan perjumpaan dengan Tuhan-lah yang akan membawa perubahan pada pikiran dan perilaku kita. Saat terjadi perjumpaan dengan Tuhan, kita sadar, kita telanjang di hadapan-Nya, tetapi kita tidak malu. Karena ketelanjangan kita ditutupi oleh kasih dan kemuliaan-Nya. (DD)

Saturday, April 15, 2023

YANG MUDA YANG DIPERCAYA

“Jika Timotius datang kepadamu, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa takut, sebab ia mengerjakan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku.” (1 Korintus 16:10) 

Saya punya seorang putri sulung bernama Anggarani, pada waktu ia masuk kuliah di perguruan tinggi, saya melarang dia untuk membawa kendaraan sendiri. Bukan karena dia tidak punya SIM C atau SIM A, tetapi karena saya tidak tega membiarkan dia berjalan dalam keramaian lalu lintas yang tentunya membahayakan keselamatan jiwanya. Selain itu saya belum memberi kepercayaan berada di jalan raya kota Surabaya yang cukup ruwet, padat bahkan macet. Kekhawatiran saya didasari ketakutan akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Menurut saya, refleks pengemudi pemula masih kurang terlatih untuk membedakan antara pedal gas dan rem, akibatnya akan sering fatal. Putri saya pun protes. Ia mengatakan kalau ia tidak diberi kesempatan mencoba, kapan bisa terlatih? Istri saya tertawa mendengar protesnya. Benar juga ya, kapan anak muda menjadi terlatih kalau ia tidak diberi kesempatan? 

Timotius adalah anak rohani Paulus (Baca : Surat Timotius). Sebagai bapak rohani, Paulus memberi teladan yang sangat baik. Sebagai senior, ia tidak khawatir akan kekurangan Timotius yang masih muda. Dengan sepenuh hati, Paulus memberikan kepercayaan pelayanan kepada anak rohani serta yuniornya. Sangat indah, Paulus memberikan teladan tentang alih generasi. Karena ia tahu kelemahan anak muda, Paulus mengasihi, mendoakan, melatih, dan memberi kesempatan kepada Timotius, yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Bahkan yang lebih indah, ia juga tidak lupa meminta jemaat agar mereka turut mendukung pelayanan Timotius. 

Sebagai orang tua, kita perlu belajar dari Paulus. Dengan besar hati orang tua harus memberikan kepercayaan pada anak-anaknya untuk 'turun gunung', sehingga dapat menggantikan dan meneruskan pekerjaan ataupun pelayanan kita. Sebagai orang muda, jadilah seorang yang jujur, tulus dan rendah hati, bukan seorang yang menganggap dirinya rendah, tetapi percayalah akan anugerah Tuhan yang sudah diberikan kepada orang-orang muda. 

1 Timotius 4:12, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 

Sebagai seorang pelayan, orang muda harus dapat mengatasi segala sesuatu yang berpotensi untuk menyulitkan, mencemarkan, menghalangi, bahkan menggagalkan pelayanan yang dilakukannya. Untuk itu ketekunan menjadi kata kunci yang harus dilakukan oleh orang muda. Amin (AU) 

Friday, April 14, 2023

AKIBAT TIDAK SETIA

“Aku telah meninggalkan kediaman-Ku, telah membuangkan negeri milik-Ku; Aku telah menyerahkan buah hati-Ku ke dalam tangan musuhnya. Negeri milik-Ku sudah menjadi seperti singa di hutan bagi-Ku; ia mengeraskan suaranya menentang Aku, sebab itu Aku membencinya. Negeri milik-Ku sudah menjadi seperti burung belang bagi-Ku; burung-burung buas mengerumuninya. Ayo, kumpulkanlah segala binatang di padang, bawalah untuk menghabiskannya! Banyak gembala telah merusakkan kebun anggur-Ku, memijak-mijak tanah-Ku, dan membuat tanah kedambaan-Ku menjadi padang gurun yang sunyi sepi. Ya, mereka telah membuatnya sunyi sepi, sunyi sepi tanah itu berkabung di hadapan-Ku! Sunyi sepi sekarang segenap negeri itu, tetapi tidak ada orang yang memperhatikannya” (Yeremia 12:7-11). 

Allah menghendaki kesetiaan umat-Nya. Berulang kali IA memberi kesempatan pada Israel untuk berbalik dan meninggalkan segala hal yang jahat. Namun, ketidaksetiaan Israel kepada Allah, telah membuat Allah murka. 

Akibat ketidaksetiaan: 

- Aku telah meninggalkan kediaman-Ku. Banyak hal yang bisa membuat kita berpaling dari Allah sehingga kita menghabiskan waktu dan perhatian kita bukan kepada Allah melainkan kepada 'allah' lain. Kondisi seperti ini, banyak orang tidak menyadari bahwa pelan tapi pasti dirinya sudah terpisah dari Tuhan. 

- Aku telah membuang negeri milik-Ku. Ketidaksetiaan tidak bisa disanding dengan kesetiaan. Jika kita dengan mudah bisa tidak setia dengan Tuhan, coba renungkan apakah tidak lebih mudah lagi bagi Tuhan untuk membiarkan kita dan membuang kita? Tuhan bisa buat apa saja dengan tingkah laku kita yang tidak setia. Bila Ia diam seolah membiarkan, bukan karena Ia kompromi, tetapi seharusnya itu jadi peringatan bagi kita dan seharusnya kita menyesal. 

- Aku menyerahkan buah hati-Ku ke dalam tangan musuh. Jangan sampai ini terjadi di dalam hidup kita. Lebih baik jatuh di tangan Tuhan, sekalipun kita di disiplin, dicambuk oleh-Nya, tetapi itu adalah bentuk kasih-Nya pada kita supaya kita sadar dan bertobat sungguh-sungguh. Daripada kita jatuh di tangan musuh, betapa parahnya hidup kita. 

- Aku membencinya. Allah sangat membenci yang namanya TIDAK SETIA. Jadi jangan sampai kita berlaku tidak setia karena itu akan menjadikan kita seteru Allah. 

-... bawalah untuk menghabiskannya. Ketidaksetiaan menghabiskan segala sesuatu. Coba kita berpikir dengan logika, orang yang tidak setia dengan keuangan, cepat atau lambat akan jatuh miskin. Orang tidak setia dengan pasangan, cepat atau lambat akan mengalami chaos di dalam pernikahan. Apalagi orang tidak setia pada Tuhan, apa yang bisa ia pertahankan?? TIDAK ADA! 

- Menjadi padang gurun yang sunyi. Ketidaksetiaan membuat kita dilupakan. Tidak ada manusia mau hidup dengan orang yang tidak setia, bukan? Kalau manusia saja enggan, lalu bagaimana dengan Tuhan? Betapa sunyinya dan kosongnya hidup kita bila itu terjadi. 

Belajar dari kesalahan Israel, berbaliklah dan bertobat sungguh-sungguh. Tuhan masih membuka pintu anugerahNya, jangan sia-siakan. Setia dan sungguh-sungguhlah pada Tuhan. (LA) 

Thursday, April 13, 2023

KEJADIANKU DAHSYAT DAN AJAIB

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:14) 

Di beberapa negara barat (Eropa dan Amerika), praktik aborsi dilegalkan bagi para penduduknya. Mereka yang gembar-gembor tentang hak asasi manusia, justru melanggarnya dengan melakukan pembunuhan bagi calon manusia. Para pendukung aborsi mengatakan bahwa selama seorang anak belum dilahirkan, ia bukanlah seorang mahhluk hidup sehingga boleh digugurkan. 

Namun, sebenarnya sejak sperma laki-laki dan sel telur wanita bertemu, lalu terjadi pembuahan, kehidupan telah tercipta. Mata Tuhan telah melihat dan memperhatikan kita, sejak kita berada dalam kandungan dan Dia telah menetapkan rencana yang indah bagi kita, karena kita berharga di mata-Nya. Yeremia 1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” 

Dia-lah yang merancang kita sejak semula; keunikan kita, kelebihan kita, juga masa depan kita, semua ada di dalam tangan-Nya. Kita memang berbeda dengan orang lain, karena demikianlah Tuhan merancang kita, dengan keunikan dan kekhasan masing-masing. Jika kita merasa rendah diri karena kekurangan yang kita miliki saat ini, ingatlah bahwa Tuhan telah menciptakan diri kita dengan sempurna dan Dia telah menyiapkan masa depan yang indah bagi kita. 

Hal apakah yang sangat mempengaruhi hidup seseorang? Menurut pemazmur, pikiran, perenungan, dan pengenalan akan Allah berdampak besar dalam kehidupan seseorang. Seluruh keberadaan hidup kita dari yang nampak sampai yang tersembunyi terbuka di hadapan Allah. Tak seorang pun dapat menyembunyikan diri atau menjauh dari Tuhan. Allah memperhatikan masing-masing pribadi sejak masih dalam kandungan, bayi, anak-anak hingga dewasa. Karena itu Allah sangat mengharapkan kejujuran dan keterbukaan kita di hadapan-Nya. Betapa bermaknanya hidup pribadi seseorang di hadapan Allah! 

Kemahatahuan Allah dan kedekatan Allah bukan untuk menangkap kita yang berdosa agar tidak luput dari hukuman-Nya. Justru sebaliknya, Ia akan menjaga dan menuntun kita untuk mencapai yang terbaik. Di mana pun kita berada, ada rasa aman di dalam perlindungan-Nya. 

Kadang sulit bagi kita untuk mengenal pikiran Allah. Bila kita mau menghitungnya, kita akan menyadari bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita adalah karena Ia mengizinkan dan Ia tetap bersama dengan kita untuk menghadapinya. Anda percaya? (AU) 


Wednesday, April 12, 2023

NATURAL TAPI SUPRANATURAL

“Lalu, datanglah putri Firaun untuk mandi di sungai sementara dayang-dayangnya menyusuri tepi sungai. Ketika dia melihat keranjang itu di antara alang-alang, dia menyuruh salah satu dayangnya untuk mengambilnya. Sewaktu dia membukanya, dia melihat bayi itu, dan lihatlah, bayi itu menangis. Dia pun berbelaskasihan kepadanya dan berkata, “Ini pasti salah satu anak orang Ibrani” (AYT - Keluaran 2:5-6) 

Bayi Musa dihanyutkan ke sungai karena ibunya tidak ingin anaknya dibunuh setelah Raja Firaun memerintahkan bahwa semua bayi laki-laki orang Ibrani harus dibunuh. Kejadian ini persis seperti kelahiran Kristus Yesus yang juga mendapatkan ancaman pembunuhan dari Raja Herodes. Kedua bayi ini, baik Musa maupun Yesus, adalah bayi-bayi yang dipersiapkan kelak menjadi juru selamat bagi bangsa Israel dan umat manusia. Namun sepertinya tidak ada peristiwa supranatural atau penyelamatan supranatural terhadap mereka. Tidak ada sepasukan malaikat yang turun dari surga menghalau para musuh mereka. Tidak ada halilintar yang menyambar turun membakar para musuh mereka. Namun bukan berarti Allah tinggal diam. Dia bekerja dengan cara memberikan penyelamatan secara natural yaitu menghanyutkan bayi Musa di Sungai Nil dan melarikan Yesus ke tanah Mesir sebagai upaya perlindungan buat mereka. 

Begitulah cara Allah campur tangan terhadap kehidupan umat-Nya. Ia bekerja pada setiap peristiwa-peristiwa biasa. Dan kita pun seringkali melihatnya hanya sekedar peristiwa yang biasa. Bahkan seringkali peristiwa itu menyakitkan kita dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Justru itulah bentuk pemeliharaan-Nya dalam hidup kita. Ia dapat bekerja melalui mukjizat yang disediakan, tetapi Ia juga sanggup bekerja melalui perkara-perkara natural. 

Tangan Allah senantiasa hadir secara aktif dalam hidup kita. Benarlah jika dikatakan demikian: “Kita tahu bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan, bagi mereka yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang dipanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab, bagi siapa yang telah Dia kenal sejak semula, juga Dia tentukan sejak semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Bagi siapa yang telah Dia tentukan sejak semula, juga Dia panggil; dan siapa yang Dia panggil, juga Dia benarkan, dan siapa yang Dia benarkan, juga Dia muliakan” (AYT - Roma 8:28-30)(DH) 

Tuesday, April 11, 2023

DIDIKAN YANG MAHA KUASA

“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa” (Ayub 5:17). 

Apa sebenarnya arti kehidupan ini? Sebagian besar orang menjalani kehidupan dengan naluri untuk sekedar bisa bertahan hidup tanpa tujuan yang jelas. Artinya mereka menganggap kehidupan adalah sebuah kebetulan secara random alami. Jika kita mengalami kemalangan atau keberuntungan, maka itu hanyalah kebetulan atau random saja. Apakah benar demikian? 

Setiap manusia dapat menjalani kehidupannya secara baik dan berkualitas ketika ia dapat memahami dengan baik arti dan tujuan dari hidup ini. Ayat di atas adalah nasihat dari Elifas, sahabat Ayub, atas kemalangan yang dialami Ayub. Elifas berpendapat, kemalangan Ayub adalah teguran dan pendisiplinan (didikan) dari Yang Mahakuasa. Di dalam nasihat ini tersirat arti bahwa hidup kita bukan kebetulan, tetapi ada di dalam rencana besar Allah Yang Mahakuasa. Kita bisa saja mempunyai kehendak bebas dan menentukan arah hidup kita, tetapi tetap saja ada campur tangan Tuhan di dalamnya. 

Menurut sahabatnya, kemalangan Ayub adalah bentuk teguran dan didikan dari Allah. Teguran mengandung arti bahwa ada yang salah dalam cara hidup Ayub dan ini diprotes oleh Ayub karena ia merasa tak bersalah. Namun, didikan atau pendisiplinan mengandung arti ada yang perlu diarahkan atau disempurnakan dari cara hidupnya atau karakternya. Penyempurnaan karakter tentu diperlukan oleh siapa pun karena semua kita tidak sempurna. Penyempurnaan karakter terjadi jika ada perubahan cara berpikir atau perubahan motivasi di hati Ayub. 

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:28-29) 

Rasul Paulus, di dalam kitab Roma, menuliskan ayat yang sering menjadi ayat favorit, yang intinya adalah “Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan”. Namun, yang disebut mendatangkan kebaikan di sini adalah kebaikan menurut ukuran Allah, bukan kebaikan ukuran kehendak manusia. Dan kebaikan ukuran ALLAH adalah supaya kita ada di dalam rencana-Nya, yaitu menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, serupa dengan KRISTUS. Keserupaan dengan Kristus ini bersifat karakter atau cara berpikir. 

Kesimpulannya, jika kita percaya dan mencintai-Nya maka hidup kita pasti diarahkan di dalam rencana-Nya, yaitu serupa dengan Kristus. Ketika hidup kita terasa berat menurut ukuran kita karena kita sedang diarahkan dan masuk di dalam didikan-Nya, maka itu tidak menjadi masalah karena tujuan akhirnya sudah jelas, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. (DD) 


Monday, April 10, 2023

FILLED with THE POWER

"Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia don kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara arang banyak" (Kisah Para Rasul 6:8)

Kata fill yang merupakan kata kerja transitif dalam Merriam Webster Dictionary memiliki arti to put into as much as can be held or conveniently contained (dimasukkan ke dalam sebanyak yang bisa dipegang atau ditampung dengan nyaman). Dalam arti sederhana, kata filled memiliki arti 'dipenuhi'. Oleh sebab itu, Filled with The Power memiliki arti 'dipenuhi dengan Sang Kuasa'. Tentu saja Sang Kuasa yang dimaksud adalah ALLAH, sedangkan yang dipenuhi oleh Sang Kuasa adalah orang yang percaya kepada ALLAH. Mengapa kita harus dipenuhi Sang Kuasa? Bagaimana cara kita dipenuhi Sang Kuasa? Mari kita belajar dan berjalan bersama Sang Kuasa. 

Yang pertama, hidup dipenuhi Sang Kuasa - Ef 5:18. Dalam Ef 5:18 (TSI), "Janganlah kamu mabuk-mabukan, karena mabuk menjerumuskanmu ke dalam berbagai dosa. Sebaliknya hendaklah hidupmu dikuasai Roh Allah." Jika kita hidup di dalam kebenaran maka kita seharusnya memiliki penguasaan diri. Orang mabuk tidak memiliki penguasaan diri karena hidupnya dipengaruhi oleh alkohol yang memabukkan. Hal kemabukan akan membawa orang terjerumus ke dalam dosa. Sebaliknya, orang yang hidup dalam kebenaran dikuasai Roh Allah. Dalam Rm 8:14 (BIS), "Orang-orang yang dibimbing oleh Roh Allah, adalah anak-anak Allah." Jika kita mau disebut sebagai anak-anak Allah maka hidup kita harus mau dipimpin oleh Roh Allah. Kita harus belajar menyerah kepada tuntunan Roh Allah agar kita bisa benar-benar dipimpin oleh Roh Allah. Kita harus belajar setuju dengan Allah untuk dapat hidup dipenuhi dan dituntun oleh Roh Allah, kita tidak boleh hidup semaunya sendiri.  

Yang kedua, mengalami dipenuhi Sang Kuasa. Untuk mengalami dipenuhi Roh Allah maka kita harus hidup di dalam Roh Allah – Rm 8:9. Orang yang hidup di dalam Roh Allah akan menuruti tuntunan Roh Allah. Sebaliknya, orang yang hidup di dalam daging tidak akan hidup di dalam Roh Allah. Untuk mengalami dipenuhi Roh Allah maka kita harus hidup dituntun Firman Kebenaran – Ef 1:13. Kita membutuhkan Firman Kebenaran setiap hari. Tanpa Firman Kebenaran, kita mudah tersesat. Firman Kebenaran akan menuntun kita berjalan dalam rencana dan kehendak Allah. Jika kita hidup dipenuhi oleh Roh Allah maka hidup kita akan menghasilkan buah Roh – Gal 5:22-23. Kita harus bergaul dengan Roh Allah setiap hari untuk menghasilkan buah Roh. Orang yang memiliki buah Roh adalah orang yang memiliki karakter Allah. Karunia dan kuasa Allah yang ada dalam kehidupan kita akan semakin luar biasa dampaknya saat karakter Allah tinggal dalam kehidupan kita. Sudahkah kita dipenuhi oleh Sang Kuasa? (DW)

Sunday, April 9, 2023

SUDAH SELESAI

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.  Yohanes 19:30

Pernyataan Yesus sudah selesai menunjukkan bahwa bagi Yesus salib bukan hanya sekedar penderitaan atau aniaya bagiNya, tetapi salib adalah sebuah tugas dan misi yang harus Ia emban dari Bapa.  

Karena salib itu merupakan tugas yang tidak mudah, Yesus pun sujud dan berdoa,  "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."  (Matius 26:39).

Ungkapan sudah selesai juga ungkapan bahwa Yesus telah menyelesaikannya dan taat sampai akhir seperti yang juga disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi,  "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:8).  

Ketika Yesus disalibkan, Ia ditinggalkan oleh murid-muridNya.  Mereka kecewa karena Yesus tidak menyatakan diri sebagai raja, malah disalibkan.  Itulah sebabnya orang-orang Yahudi sampai hari ini tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat.

Karena dosa, seharusnya kita yang menanggung hukuman, tapi kini telah diselesaikan oleh Kristus;  dan segala harga yang seharusnya kita bayar telah dilunasi olehNya.  Alkitab menyatakan,  "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu." (1 Korintus 6:20).  

Kita tahu harga dosa adalah maut dan penghukuman kekal.  Tetapi dalam Yesus Kristus telah diubah segala kutuk menjadi berkat;  dimerdekakan dari dosa menjadi hamba kebenaran!

Bagaimana respons kita terhadap pengorbanan Kristus ini?  Dikatakan,  "Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu."  Keselamatan adalah anugerah terbesar dalam hidup kita, karena itu jangan pernah sia-siakan.  

Jangan lagi kita hidup dalam dosa, melainkan mari kita hidup sebagai  'manusia baru'.  Dan selagi masih ada kesempatan mari kita gunakan untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan memberi yang terbaik bagi Dia!

KEMATIAN KRISTUS MEMBUAT KITA HIDUP

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah la: "Sudah selesai."” Lalu la menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yohanes 19:30)

Perayaan yang berhubungan dengan kematian, bukanlah sesuatu yang popular. Sebab, di mana ada kematian, di situ juga ada air mata. Kalau hari kelahiran dirayakan, itu suatu hal yang wajar-wajar saja. Karena peristiwa kelahiran dianggap sesuatu yang penting dan menyenangkan. Tetapi lain halnya dengan peristiwa kematian, jarang sekali dianggap sebagai sesuatu yang penting dan menyenangkan. Justru sebaliknya, peristiwa kematian selalu diiringi dengan kesedihan yang mendalam.

Kematian Kristus bagi orang beriman, adalah peristiwa yang besar dan merupakan sesuatu hal yang penting. Sebab, kematian-Nya berarti kehidupan bagi kita, kematian Kristus membuat surga menjadi pasti untuk orang-orang beriman. Kematian Kristus adalah jaminan untuk kita hidup 

berkemenangan dan berkelimpahan. Kematian Kristus (Jumat Agung) adalah sesuatu yang penting, karena: 

Pertama, kematian Kristus tidak ada hubungannya dengan air mata. Yesus mati karena Allah tahu batas kekuatan kita. Di mana kita pasti tidak sanggup membebaskan diri dari segala belenggu dosa, tanpa adanya penumpahan darah Kristus. Artinya, tanpa kematian Yesus tidak ada jalan keselamatan bagi manusia.

Kedua, kematian Kristus tidak ada hubungannya dengan kegagalan. Kematian Yesus adalah bagian dari rencana Allah, yaitu untuk menggenapi janji-janji Allah bagi umat-Nya. Yohanes 19:28, “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah la--supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci--"Aku haus!".

Ketiga, Kematian Kristus tidak ada hubungannya dengan akhir. Sebab dengan Kristus mati, maka ada kebangkitan. Dengan kebangkitan-Nya maka kita menerima kuasa, yaitu kuasa kebangkitan dari Allah. Artinya, kuasa yang telah membangkitkan Kristus, itu juga akan membangkitkan kita orang-orang percaya dari kematian dan meraih kehidupan kekal.

Dengan kematian Kristus, kita akan hidup dalam kuasa Allah dan dapat hidup dengan sukacita dan damai sejahtera, serta hidup kita mempunyai kepastian di dalam Kristus. Yohanes 19:30, la berkata ”Sudah selesai!”. Berati bagi Yesus, salib bukan hanya sekedar penderitaan, siksaan, kesedihan dan kepedihan, tetapi bagi Yesus salib adalah sebuah tugas. Kalau kita tahu bahwa salib itu tugas, maka suka atau tidak suka kita harus menyelesaikannya dengan kemenangan yang besar, karena itu tugas dari Allah. Sehingga kita yang percaya kepada Kristus dapat menyelesaikan tugas pelayanan kita sampai akhir hayat dengan kemenangan. Amin (AU)

TETAPLAH DI JALUR YANG BENAR

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9). 

Di salah satu radio swasta di Surabaya beberapa waktu yang lalu, ada perbincangan dengan walikota Surabaya Eri Cahyadi. Topik yang diperbicangkan adalah pemberantas pungli di lingkungan pemkot Surabaya. Dengan tegas Eri Cahyadi mengingatkan; “ASN atau aparat sipil negara adalah abdi atau pelayan masyarakat sehingga bukan berjasa jika sudah memberikan pelayanan sebaik-baiknya dan masyarakat juga saya himbau untuk tidak merasa perlu memberi tips kepada ASN yang sudah melayaninya. Jika ada ASN yang meminta jasa, berikan saja tetapi setelah itu laporkan langsung kepada saya, dan saya sendiri yang akan melaporkan yang bersangkutan”, demikian kata walikota. 

Dalam perbincangan itu dikemukakan berbagai contoh pungli dan tindakan yang sudah dilakukan. Lalu kemudian muncul banyak komentar dari pemirsa dari yang melaporkan kasus-kasus yang dialami pemirsa hingga pujian kepada kinerja ASN karena telah mendapatkan pelayanan yang baik tanpa pungli. Namun, di sela-sela komentar-komentar itu, ada kesaksian dari seorang ibu S yang menceritakan kejadian yang dialaminya beberapa tahun yang lalu berkaitan dengan perijinan di Dinas Cipta Kerja. Karena merasa ada kendala, dia langsung ke Kadis Cipta Kerja. Tidak diduga, dia mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan cepat sehingga S merasa berhutang budi dan berniat dengan tulus memberikan tip. Namun, ketika diberikan, pejabat yang bersangkutan menolak dengan tegas karena merasa hanya melakukan kewajibannya sebagai pejabat yang berwenang. Hal ini menimbulkan kesan yang sangat baik bagi S. Ketika ditanya siapa nama pejabat tersebut, S mengaku lupa karena kejadiannya sudah lama, beberapa tahun yang lalu. Nah yang menarik, ternyata pewawancara tau persis dan mengkonfirmasi bahwa pejabat tersebut adalah Eri Cahyadi yang sekarang ini telah menjadi walikota. 

Wow, kebetulan yang indah seperti "settingan" saja, tetapi sebagai orang percaya kita harus berpikiran positif bahwa di sini berlaku hukum tabur tuai yang berlaku bagi semua orang tidak peduli apapun agamanya. Ketulusan, integritas, kesungguhan hati sebagai benih yang baik yang ketika ditaburkan, akan menghasilkan buah kemuliaan. Walaupun ketulusan tidak mengharapkan imbalan, tetapi buah kemuliaan akan datang dengan sendirinya. Di situlah kuasa ilahi mendapatkan tempat untuk berkarya secara ajaib. Karena itu, tetaplah lakukan kebaikan seperti yang dikatakan dalam ayat di atas. Jadi cepat atau lambat, tidak perlu dinantikan, kemuliaan akan datang sendiri pada waktunya. Halleluyah. (LS)

Saturday, April 8, 2023

HUKUMAN YANG SAH

“Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia la telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, duuan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib (Efesus 2:15-16)

Peristiwa hukuman mati dengan cara disalibkan yang ditimpakan kepada Tuhan Yesus tidak dapat dipandang sebagai ketidakadilan. Memang, awalnya Dia ditangkap karena rasa dengki dan iri hati para pemimpin agama Yahudi. Bahkan sampai di pengadilan, mereka tidak dapat menghadirkan saksi-saksi yang dapat memberatkan sehingga Pilatus pun berniat membebaskan Dia seperti yang tercatat dalam Lukas 23:4b “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini.” Namun, akhirnya kesalahan itu muncul ketika Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai “Akulah Dia” atau Ego Eimi yang dalam bahasa Ibrani sama artinya dengan YHWH atau Yahwe (Markus 14:62). “Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: 'Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?' Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati” (Mar 14:63-64).

Pada masa itu, hukum agama berlaku dalam masyarakat Yahudi dan menyamakan diri dengan Allah adalah pasal penistaan agama dan dikategorikan sebagai tindak pidana yang paling berat. Karena itu hukuman yang paling pantas adalah hukuman mati. ltulah keadilan yang berlaku sehingga secara hukum, hukuman mati kepada Yesus itu jelas sah secara hukum. Dengan demikian tidak ada lagi hukuman yang lebih berat yang dapat ditanggung manusia selain dari kematian di kayu salib.

Ketika Yesus bangkit dari kematian, maka terbuktilah bahwa Dia sudah menanggung hukuman yang paling berat dan menang atasnya sehingga terbukalah jalan kepada penebusan. Seperti yang dikatakan dalam Galatia 3:13, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Maka dosa dan kesalahan sebesar apapun semua sudah ditanggung Yesus di kayu salib sehingga setiap orang yang menaruh iman kepadaNya akan mengalami damai sejahtera. Mengapa? Karena proses hukumnya sah sehingga dikatakan dalam Roma 8:33, “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?” Tidak akan ada tuntutan atau tuduhan-tuduhan dari hati nurani karena yang ada hanya damai sejahtera, yaitu pulihnya hubungan dengan Bapa. Haleluya. (LS)

APAKAH ANDA JEMAAT YANG SETIA

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku" (Yohanes 15:8). 

Ada sebuah perkataan yang sering kita dengar, yang sepertinya mengandung kebenaran yang sempurna, yakni: “Lebih penting jemaat berjumlah sedikit, tetapi berkualitas, dibandingkan jumlahnya banyak namun tidak berkualitas”. Kalimat ini seperti mengandung kebenaran yang sempurna dan absolut. Lalu ditambah lagi dengan pernyataan bahwa murid Tuhan Yesus pun hanya berjumlah 12 orang. Itu pun, satu gagal. 

Sebagai pemilik kebun, yang diharapkan pastilah hasil buah yang banyak. Tuhan Yesus sering mengumpamakan dirinya adalah pokok (pohon) anggur dan Bapa-Nya adalah pemilik kebun anggur. Yesus, sebagai pokok anggur, tidak pernah berbicara atau meragukan kualitas anggur yang tumbuh dari carang-Nya karena Ia yakin kualitas buah yang tumbuh dari diri-Nya. Namun, yang Ia harapkan adalah kebun anggur-Nya "berbuah banyak" karena tujuan kebun anggur bukan hanya berbuah manis, tetapi berbuah lebat. Jika kebun anggur berbuah lebat maka Bapa-nya, sebagai pemilik kebun anggur, akan dipermuliakan. 

Sekali lagi, banyak orang Kristen permisif lalu berkata, "Yang penting, kita ini setia kepada Tuhan." Padahal seharusnya kesetiaan dibuktikan dengan menghasilkan buah yang banyak, yang arti kongkretnya, kita menghasilkan banyak orang yang bertobat dan percaya kepada karya penebusan Kristus. Kesimpulannya, setiap kita yang menyebut diri murid Tuhan dan jemaat gereja Tuhan seharusnya melayani DENGAN SETIA, YANG TUJUANNYA MENGHASILKAN BUAH YANG BANYAK. Kita harus mencari tahu cara menghasilkan buah yang banyak. 

Jika kita sebagai murid dan gereja Tuhan hanya menghasilkan buah yang minimal karena malas berubah atau karena terus memakai metode yang tidak cocok dan relevan, maka sebenarnya kita jemaat gereja yang tidak setia. (DD) 

Friday, April 7, 2023

VIA DOLOROSA

“la dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. (4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah” (Yesaya 53:3)

Via Dolorosa, arti harfiahnya adalah "jalan penderitaan', yaitu sebutan untuk napak tilas yang dilalui Kristus dari tempat diadili sampai tempat la disalibkan. Banyak orang yang mencoba mengikuti nalak tilas ini sebagai prosesi yang dinamai ‘Jalan Salib’. Tentu saja kayu salib, mahkota duri, dan cambukan prajurit hanya pura-pura, hanya sebatas prosesi dan tak membuat benar-benar menderita. Setelah mengikuti prosesi Jalan Salib, mereka tidak terluka dan tidak berdarah-darah.

Pada umumnya, di dalam hidup ini setiap manusia menghindari yang namanya penderitaan. Namun, benarkah dengan menghindarkan diri dari penderitaan maka kita akan terlepas dari penderitaan itu?

Bagi seorang atlet yang disiapkan untuk bertanding menjadi juara, latihan yang melelahkan dan penuh penderitaan adalah makanan sehari-hari. Penderitaan saat latihan dan juga penderitaan saat beradu dalam serangkaian pertandingan sebelum menjadi juara adalah perjalanan kehidupan penuh derita yang memang direncanakan. Semua penderitaan yang direncanakan tak dirasakan sebagai derita karena ada tujuan besar yaitu menjadi juara.

Seorang Mother Teresa menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk menolong orang lain keluar dari penderitaan. Mother Teresa merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya justru ketika ia mengabdikan hidupnya untuk menolong orang-orang keluar dari penderitaan akibat kelaparan dan kemiskinan. Ya, bagi Mother Teresa yang telah mengikrarkan diri sebagai seorang biarawati yang memang pengabdiannya lebih banyak untuk menolong orang lain, penderitaannya bukan lagi sebuah perjalanan derita, tetapi jalan kebahagiaan.

Via Dolorosa yang dilakukan Kristus adalah penderitaan nyata yang tak mungkin bisa kita lakukan. Namun, Kristus lakukan dengan sukarela karena cinta-Nya kepada umat manusia. Karena sesungguhnya dalam penderitaan-Nya itu, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya.

Yang menjadi pertanyaan besarnya, haruskah kita menghindari penderitaan? Atau bisakah hidup ini kita abdikan untuk sebuah tujuan mulia, yang jalannya memang harus lewat penderitaan?

Maukah kita menjalani via dolorosa dengan sukarela dan sukacita karena kita bertujuan untuk melepaskan atau mengurangi penderitaan orang lain.

Via Dolorosa! 'jalan penderitaan’, atau sebenarnya ‘jalan menuju kebahagiaan'. Perlukah dalam hidup ini kita 'menapaktilasinya'? (DD)

BERBAHAGIA YANG MENERIMA KARUNIA ALLAH

“Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus” (Mazmur 65:5). 

Setiap orang percaya yang telah menerima karunia Allah, statusnya bukan lagi hamba dosa, melainkan Putera. Kalau kita menyadari pentingnya seorang putera bagi Ayah dan Ibunya, maka tentu perasaan kita akan bangga bisa diakui, bisa diterima sebagai anak, bisa dekat dengan mereka setiap saat. Demikian seharusnya perasaan kita kepada Bapa di Sorga. Kita dijadikan Putera olehNya, bukan hamba!. Kita harus merasa bangga diakui dan diterima sebagai anak, bisa dekat dengan Bapa kita setiap saat, bahkan menerima segala pemenuhan dari janji Illahi. Itulah sebabnya dikatakan berbahagialah! 

Apa yang Bapa punya, itu juga kepunyaan Anak. Sebagai putera atau anak, kita seharusnya memilih dekat dengan Bapa kita, karena pasti terjamin dan aman dalam pengawasanNya. Kalau Bapa menyuruh kita mendekat di pelataranNya, seharusnya itu tidak lagi menjadi beban buat kita atau terpaksa mendekat karena disuruh-suruh. Kita harus senang, tanpa rasa takut datang mendekat di dalam pelataranNya, karena kita tahu itu status kita sebagai Putera. Orang yang paham akan hal ini, tidaklah heran bila ia selalu dikenyangkan dengan segala hal yang baik di rumah Bapanya. Mengapa? Karena ia datang dengan sebuah pemahaman bahwa sebagai anak ia ingin mempersembahkan yang terbaik buat Bapanya. Seorang putera datang ke rumah Bapanya, karena itu juga rumahnya, ia punya hak tinggal di rumah bapanya dan menikmati segala yang ada di dalam rumah bapanya. 

Jangan datang beribadah karena terpaksa, karena kewajiban, karena merasa tidak enak dengan Gembala, kalau tidak datang ibadah nanti ditanya-tanya. Jangan datang berdoa, atau ikut doa karena terpaksa, karena kewajiban, karena ikut-ikutan. Jangan juga melayani karena terpaksa, melayani karena dijadwal, melayani karena disuruh-suruh, atau ada motivasi yang salah. Kalau kita sadar status kita putera, maka seharusnya kita berbahagia bila diberi kesempatan datang ke rumah Bapa dengan melayani Dia. Harusnya kita berbahagia bila kita dapat berjumpa dengan Bapa kita di setiap doa kita, harusnya kita berbahagia bila kita bisa mengembangkan setiap karunia yang sudah dipercayakan kepada kita, karena memang itulah berkat bagi orang yang menerima karunia Allah, yang tidak semua orang mengalaminya. Hanya untuk mereka yang terpanggil dan terpilih. (LA) 

Thursday, April 6, 2023

ORANG KRISTEN YANG SEPERTI APAKAH AKU INI?

4 Tipe Orang Kristen

Seorang Kristen Aman? 

Seorang Kristen Aman memandang dunia sekelilingnya sebagai ancaman. Kristen Aman bersembunyi dalam pembenaran yang cukup layak dijadikan alasan atas sikap itu, “Bukankah dunia ini penuh dengan godaan dan dosa? Saya perlu menjauhkan diri dari dunia.” Ia menciptakan ruang dan jarak yang “sehat” antara dunia ini dan dirinya. Sadar atau tidak, Kristen Aman menggunakan pembenaran ini untuk mempertahankan sikap penakut terhadap dunia ini dan tidak terlibat sebagai terang dan garam.

Seorang Kristen Sukses? 

Kristen Sukses ingin agar eksistensinya selalu terlihat. Mereka adalah sekelompok orang percaya yang mengaku telah mengalami misi Allah di dunia ini, tetapi dikuasai oleh keinginan untuk sukses di dunia ini. Kristen Aman mengandaikan dunia sebagai arena perlombaan; pengejaran kesuksesan dilakukan dalam tingkah laku yang “kristiani.” Kristen Sukses bersaksi kepada publik tentang kisah-kisah keberhasilan yang dibungkus dalam jubah kerohanian.

Seorang Kristen Gembira? 

Bagi Kristen Gembira, dunia ini adalah taman hiburan yang memikat. Kesenangan-kesenangan ini merupakan peluang emas yang menggelitik Kristen Gembira untuk menikmati dengan tiada habisnya. Secara cerdik, dunia terus mendorong pengejaran Kristen Gembira lewat godaan sampai menjadikan mereka hedonis dan tidak terkendali. Sikap ini seakan mendapat pengesahan dalam budaya konsumtif. Tak jarang, gereja juga memperlakukan jemaat sebagai konsumen. Terkadang sikap ini menjadikan seorang Kristen berpikir bahwa Kristen Gembira adalah jenis Kristen yang paling normal yang ada di dunia. Ternyata banyak orang Kristen yang hanya sibuk melindungi diri dari dunia, mengejar kesuksesan dari dunia, dan menikmati kesenangan dunia. Syukurnya, kita memiliki pilihan lain.

Seorang Kristen Misioner?

Kristen Misioner adalah orang Kristen yang telah mengalami misi Allah di dunia ini dan terus berproses terlibat dalam misi-Nya, menghidupi perintah Yesus yang tegas dan lembut menghardik kaum teoretis: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37)


KESATUAN TUBUH DAN KEPALA

“Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu” (Kisah Para Rasul 22:6-8). 

Kepala dan tubuh itu tidak dapat terpisahkan. Jika ada yang terjadi dengan tubuh makakepala ikut merasakan. Siapakah yang menjadi kepala atas seluruh Jemaat di muka bumi ini? Dia adalah Tuhan Yesus Kristus. Alkitab katakan, “Karena suami adalah kepala dari istri, sama seperti Kristus adalah kepala dari seluruh jemaat Allah. Sebagai tubuh Kristus, kita taat kepada Dia yang sudah menyelamatkan kita” (TSI3 - Efesus 5:23). 

Saat Saulus menganiaya gereja atau jemaat mula-mula maka itu berdampak kepada Sang Kepala. Jika tubuh teraniaya maka Sang Kepala juga teraniaya. Makanya suara yang datang kepada Saulus bertanya, "Kenapa engkau menganiaya Aku?" Secara langsung Paulus tidak pernah menganiaya Tuhan Yesus Kristus. Ia hanya menganiaya gereja-Nya. Ia lupa bahwa tubuh yang teraniaya atau tersakiti akan dirasakan juga oleh sang kepala. Dan prinsip ini juga berlaku bagi sesama jemaat Tuhan di seluruh muka bumi. Jika salah satu menderita atau teraniaya maka semua anggota tubuh akan ikut merasakan. Sebaliknya jika satu mendapatkan pujian maka yang lainnya juga menerima hormat yang sama. Alkitab katakan, “Jika satu anggota menderita, semua anggota menderita bersamanya. Jika satu anggota dimuliakan, semua anggota bersukacita bersamanya. Sekarang kamu adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggota-anggotanya” (AYT - 1 Korintus 12:26-27). 

Jangan terjebak pada kebanggaan akan denominasi atau merek gereja. Dan lebih parah lagi menganggap gereja lain sebagai kompetitor kita. Ini pasti pekerjaan iblis. Dia senang kita sibuk secara agamawi lalu membesarkan merek gereja sendiri dan melupakan kesatuan pada tubuh Kristus di seluruh muka bumi. 

Lihatlah dan amatilah saudara-saudaramu di muka bumi ini dan berdoalah buat mereka semua. Sebab banyak yang teraniaya dan menderita dalam perjuangan yang berat oleh karena iman mereka.(DH) 

Wednesday, April 5, 2023

Mengapa Yesus Harus Mati di Kayu Salib?

Menurut keyakinan agama Kristen, Yesus harus mati di kayu salib sebagai bagian dari rencana penyelamatan manusia oleh Allah. 

Yesus dipandang sebagai Anak Allah yang diutus ke dunia untuk mengorbankan diri-Nya sebagai kurban dosa manusia, sebagai bentuk kasih karunia dan penebusan dosa bagi umat manusia.

Menurut ajaran Kristen, manusia terlahir dalam dosa karena pemberontakan manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, terhadap Allah. Kematian Yesus di kayu salib dianggap sebagai pengorbanan yang sempurna dan diterima oleh Allah untuk menghapus dosa manusia dan membuka jalan bagi penyelamatan mereka. Dalam pandangan ini, kematian Yesus di kayu salib dilihat sebagai penggenapan nubuat dalam Alkitab tentang Mesias yang akan datang sebagai Juruselamat yang akan mengorbankan diri-Nya untuk menghapus dosa manusia.

Selain itu, kematian Yesus di kayu salib juga dianggap sebagai contoh teladan bagi umat manusia dalam hal pengorbanan, kasih, dan pengampunan. Dalam ajaran Kristen, Yesus dipandang sebagai teladan sempurna bagi manusia untuk mengikuti jalan-Nya dalam mengasihi dan mengampuni sesama, serta bersedia mengorbankan diri untuk kebaikan orang lain.

BERTUMBUH OLEH KASIH KARUNIA

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” ( 1 Korintus 3:6 ) 

Kita sering mendengar kalimat yang menyatakan bahwa pertumbuhan gereja tergantung darikasih karunia Allah. Benarkah demikian? Kalau gereja bertumbuh oleh karena kasih karunia Allah, mengapa ada gereja yang ditutup? Jadi, adalah mitos jika mengatakan bahwa pertumbuhan jemaat di gereja terjadi bukan karena usaha atau campur tangan manusia. Hari ini kita menyaksikan dan mendengar bahwa ada gedung gereja yang dijual karena jemaatnya menyusut dari tahun ke tahun dan sinode gereja tak mampu lagi membiayai perawatan gedungnya sehingga dengan sangat terpaksa gedung gereja itu dijual. 

Tentu saja pertumbuhan jemaat di sebuah gereja tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab manusia, khususnya para pemimpin dan pengurus di gereja. Tetapi mengapa jemaat gereja di sebuah daerah menyusut sedangkan di daerah lain berkembang pesat? Tentu banyak faktor penyebabnya, tetapi perlu diketahui bahwa gereja yang jemaatnya berkembang pesat adalah gereja yang relevan dengan perkembangan jaman dan mengikuti perkembangan budaya masyarakat setempat. Dan tentu saja untuk menjadi gereja yang selalu relevan dan up to date, diperlukan kepekaan serta kreatifitas dari pemimpin dan pengurus untuk melakukan perubahan dan pembaharuan. 

Jadi, pertumbuhan gereja terwujud karena kerja sama antara Allah dan manusia. Oleh kasih karunia Allah melalui kreatifitas manusia. Rasul Paulus menuliskan pada ayat di atas, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan." Jika ada yang menanam, tetapi tak ada yang menyiram pasti tak ada pertumbuhan. Jadi, jika terjadi kemandegan, tentu yang salah adalah para pemimpin dan pengurus yang merupakan penentu kebijakan di dalam organisasi gereja. Bisa jadi mereka hanya menyiram, tetapi tak pernah menanam, atau sebaliknya. Apa yang mereka lakukan tidak relevan. Itu sebabnya, sebagai pemimpin dan pengurus di gereja, kita harus peka untuk melakukan perubahan secara teknologi dan juga melakukan pembaharuan, khususnya yang berkaitan dengan apa yang menjadi trend di dunia modern saat ini. 

Kalangan anak muda perlu diikutsertakan karena mereka adalah generasi penerus jemaat di gereja. Pembaharuan lagu-lagu pujian, misalnya, harus dilakukan secara berkala dan dievaluasi. Penyajian lagu pujian seharusnya tidak tabu untuk diubah sesuai perkembangan dunia musik. Anda setuju? ( DD) 

Tuesday, April 4, 2023

Apa saja keberatan-keberatan terhadap doktrin penebusan terbatas

Doktrin penebusan terbatas adalah pandangan yang menyatakan bahwa Yesus Kristus mati hanya untuk menebus dosa-dosa orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk diselamatkan, yang dikenal sebagai "orang-orang pilihan" atau "jemaat pilihan".

Pandangan ini sering diperdebatkan oleh beberapa kalangan. Beberapa keberatan terhadap doktrin penebusan terbatas antara lain:

Menimbulkan pertanyaan tentang keadilan dan belas kasihan Allah: Apakah adil jika Allah hanya memilih beberapa orang untuk diselamatkan sementara yang lain dibiarkan terhukum? Bagaimana bisa Allah mengklaim sebagai Allah yang penuh belas kasihan jika Dia hanya memberikan keselamatan kepada sebagian kecil orang saja?

Tidak konsisten dengan pandangan kebebasan beragama: Jika penebusan terbatas benar, maka seseorang tidak dapat memilih untuk menjadi orang beriman atau tidak. Ini bertentangan dengan pandangan kebebasan beragama yang memungkinkan setiap orang untuk memilih agamanya sendiri.

Tidak konsisten dengan kasih Allah yang universal: Allah adalah kasih yang universal, dan Dia mencintai semua orang di dunia ini, tidak hanya orang-orang tertentu yang dipilih-Nya. Oleh karena itu, pandangan yang menyatakan bahwa keselamatan hanya tersedia bagi sebagian kecil orang tampak tidak konsisten dengan kasih Allah yang universal.

Bertentangan dengan pandangan bahwa Yesus Kristus mati untuk semua orang: Beberapa kitab suci Kristen, termasuk Surat Roma, menyatakan bahwa Yesus Kristus mati untuk semua orang, bukan hanya untuk beberapa orang yang dipilih-Nya. Oleh karena itu, pandangan penebusan terbatas bertentangan dengan pandangan tersebut.

Memperkuat pemisahan dan diskriminasi antara orang-orang beriman dan non-beriman: Pandangan penebusan terbatas dapat memperkuat pemisahan dan diskriminasi antara orang-orang beriman dan non-beriman. Orang-orang yang tidak dipilih oleh Allah untuk diselamatkan mungkin merasa diabaikan atau dianggap tidak berharga oleh orang-orang beriman yang memegang pandangan tersebut.

Apa saja keberatan keberatan terhadap doktrik predestinasi

Doktrin predestinasi atau pradestinasi adalah konsep teologis yang mengatakan bahwa Tuhan telah menentukan nasib seseorang sebelumnya, termasuk apakah seseorang akan diselamatkan atau tidak. 

Konsep ini telah menjadi subjek perdebatan di antara berbagai denominasi agama dan beberapa keberatan yang sering diajukan termasuk:

Keberatan terhadap keadilan Tuhan: Keberatan ini sering muncul karena konsep predestinasi yang mengesampingkan kebebasan manusia. Seorang yang dianggap telah ditentukan untuk diselamatkan atau tidak diselamatkan, bahkan sebelum ia lahir, dapat menimbulkan pertanyaan tentang keadilan Tuhan.

Mengurangi pentingnya tindakan manusia: Konsep predestinasi dapat mengurangi kepentingan tindakan manusia dalam proses keselamatan. Jika Tuhan telah menentukan nasib seseorang sebelumnya, maka tindakan manusia mungkin menjadi tidak relevan dan tidak berarti.

Kontradiksi dengan konsep kebebasan manusia: Konsep predestinasi juga dapat menjadi kontradiktif dengan konsep kebebasan manusia. Jika Tuhan telah menentukan nasib seseorang sebelumnya, maka hal itu dapat berarti bahwa manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih.

Memunculkan rasa putus asa: Bagi mereka yang percaya bahwa mereka telah ditentukan untuk tidak diselamatkan, doktrin predestinasi dapat memunculkan rasa putus asa dan kehilangan harapan.

Tidak ada alasan untuk evangelisasi: Konsep predestinasi dapat mengurangi motivasi untuk melakukan evangelisasi. Jika Tuhan telah menentukan siapa yang akan diselamatkan, maka mengapa perlu berkhotbah atau menyebarkan kabar baik tentang Yesus Kristus?

Namun, meskipun ada keberatan terhadap doktrin predestinasi, pendapat ini masih dipertahankan oleh banyak denominasi agama dan banyak juga yang menganggap bahwa doktrin ini dapat diterima.


MULIA MENJADI HINA

“Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi” (Lukas 18:32) 

Ada sebuah film yang berjudul South of the Border yang dibintangi oleh artis Drew Barrymore. Dia menjadi tokoh anjing Chihuahua yang tersesat di Meksiko, Drew adalah pengisi suara tokoh anjing tersebut. Pernahkah Anda bayangkan jika manusia meniru anjing selama 24 jam? Menyalak dengan garang di depan rumah, dirantai dekat pintu pagar, makan dengan menjilatkan lidah di bokor makanannya. Tinggal di kandang besi sehingga kepanasan dan kedinginan. Ia bisa ditendang oleh tuannya jika membandel sampai terkaing-kaing. Ditempatkan di bagian paling berbahaya di malam hari. Tentu saja ia harus bertumpu pada telapak tangan dan lututnya. Oh tidak, itu tidak manusiawi. Di mana harga dirinya? 

Itu baru contoh manusia menjadi anjing. Bagaimana ketika Allah menjadi manusia? Bagaimana menjelaskan kehinaan-Nya, meninggalkan keallahan-Nya? Pencipta menjadi serupa ciptaan. Dari Mahakuasa menjadi maha terbatas. Dia lahir dari rahim seorang perempuan, menjadi Bayi kecil yang ringkih di palungan, bukan di rumah bersalin. Dia hadir di tengah bau kotoran domba. Dia menjadi manusia, yang tumbuh sejak bayi sampai masa dewasanya. Dia juga mengalami kematian dalam pelayanan terakhir-Nya di bumi. Mengapa Yesus mau merendahkan diri-Nya? Logika kita sangat terbatas untuk memahami hal tersebut. Namun, hanya satu alasan Dia mau melakukan hal itu, yaitu karena Dia begitu mengasihi Anda dan saya. Dia menjadi hina dalam tubuh manusia, supaya kita tidak binasa. Ya, bagi Anda dan saya. 

Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” 

Tawaran keselamatan yang diberikan-Nya berlaku bagi semua orang, bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya tanpa kecuali, dapat memperoleh keuntungan dari-Nya. Ia datang supaya dunia bisa diselamatkan melalui Dia, supaya pintu keselamatan terbuka bagi dunia, dan siapa saja yang berminat dapat memasukinya. Allah di dalam Kristus mendamaikan dunia dengan diri-Nya, dan dengan demikian menyelamatkannya. 

Kisah Para Rasul 4:12 “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” 

Keselamatan tidak ada pada yang lain. Di kolong langit ini hanya satu yaitu Putra Allah sendiri yang talah menjadi Manusia Yesus Kristus. Anda percaya? (AU) 

Monday, April 3, 2023

ATM (AMATI, TIRU, MODIFIKASI)

“Orang yang bijak lebih berwibawa dari pada orang kuat, juga orang yang berpengetahuan dari pada orang yang tegap kuat. Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak“ (Amsal 24:5-6). 

Saat ini, Cina bukan lagi negara berkembang, tetapi negara modern yang juga menghasilkan teknologi modern yang luar biasa. Hari ini, di Indonesia berseliweran mobil listrik buatan Cina. Kereta api cepat pun sudah lama mereka buat. Mereka memakai prinsip ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Para pemuda di sana belajar teknologi di negara barat, lalu pulang, mempraktekkan dan menyesuaikan dengan budaya setempat. 

Di dalam mengembangkan managemen gereja, seharusnya kita juga tidak tabu memakai prinsip ATM. Kita bisa belajar hal-hal yang positif pada gereja yang sudah berkembang, lalu menambahkan beberapa local wisdom yang sudah ada di gereja kita. Seringkali kita membanggakan gereja sendiri dan berkata, ”Banyak orang yang berdedikasi di dalam pelayanan di Gereja, tetapi sekedar berdedikasi tanpa hikmat akan membuat gereja jalan di tempat“. Jika gereja kita jalan di tempat maka perlu diadakan perubahan. Kita harus berani mengganti orang-orang yang berdedikasi, tetapi tak lagi mau belajar hal yang baru pada orang yang berhikmat dan kreatif. 

Ayat di atas mengajarkan bahwa kuat dan tegap saja tak cukup untuk menghadapi peperangan; dibutuhkan orang yang bijak dan berpengetahuan dalam merencanakan kemenangan dalam peperangan. Belajar dari dunia sekuler seharusnya tidaklah tabu. 

Kurang dari sepuluh tahun yang lalu, Nokia adalah merk telpon genggam terkenal, bahkan nomor satu. Ketika produk lain telah berganti dengan sistem android, Nokia tetap percaya diri dan tak mau merubah sistem digitalnya ke sistem android. Ketika penjualan merosot tajam dan mereka mencoba berpindah ke sistem android, sudah terlambat. Pasar telah dikuasai Samsung dan telpon genggam buatan Cina yang bersistem android. Nokia kalah total dalam perang pasar telpon genggam hanya dalam hitungan satu-dua tahun. 

Gereja memang bukan berperang dalam arti fisik, tetapi gereja sedang berperang untuk merubah dunia dengan cara berpikir Kerajaan Sorga. Diperlukan orang-orang yang mau terus berkembang mengikuti perkembangan jaman dan tidak tabu untuk memakai prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Akhirnya, gereja jangan malas, terus belajar, dan mau berubah, bahkan belajar dari gereja lain yang sudah lebih dulu berkembang pesat.(DD)

Sunday, April 2, 2023

TUHAN MENAMBAHKAN JUMLAH

“Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:47). 

Sejarah mencatat pada jemaat mula-mula, tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang yang diselamatkan. Bagaimana dengan keadaan yang terjadi pada jemaat gereja kita hari ini? Sudahkah terjadi pertumbuhan jemaat baru? Atau jemaat yang baru adalah jemaat pindahan dari gereja lain? 

Pada saat acara doa bersama, kita semua pernah mendengar doa dan bahkan ikut berdoa supaya Tuhan menambahkan jumlah orang yang bertobat. Apakah ini salah? Bukankah ayat bacaan kita menuliskan "... tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan". Apakah doa ini akan terjawab dan setiap minggu Tuhan akan menambahkan pertumbuhan jemaat? 

Berdoa agar Tuhan menambahkan jumlah jemaat tentu tidak salah, tetapi kita seringkali tidak cermat. Mengapa pada jemaat mula-mula Tuhan menambahkan jumlah orang diselamatkan setiap hari? Mengapa dulu dapat dengan mudah terjadi dan sekarang tidak? Kata kuncinya adalah pada kalimat sebelumnya "MEREKA DISUKAI SEMUA ORANG". 

Hari ini ada kalimat yang populer bahkan di kalangan jemaat gereja, yaitu "EMANGNYA GUE PIKIRIN" (EGP). Kalau sikap EGP telah menjadi budaya di tengah jemaat gereja di tempat kita beribadah maka jangan pernah berharap setiap hari atau setiap minggu ada pertambahan jiwa yang diselamatkan. Sikap EGP dan sikap pasif kita pada umumnya terjadi karena pemahaman yang salah, yaitu kita menunggu Tuhan yang akan dengan sendiri-Nya menambahkan jumlah jemaat. Padahal Tuhan sedang menunggu apakah kita siap dipakai oleh-Nya untuk menjadi orang yang disukai orang lain yang belum mengenal Tuhan. Setiap orang akan datang dan betah untuk beribadah bila ia merasakan diterima dan diperhatikan di gereja. 

Perhatian dan penerimaan jemaat lama terhadap jemaat yang baru akan membuat terjadinya resonansi sehingga secara alami akan banyak orang baru yang datang. 

Mari gemakan pemahaman di tengah jemaat gereja supaya terbentuk budaya dimana sikap jemaat baik, ramah, terbuka, suka menolong sehingga disukai oleh orang yang baru datang. Anda setuju ? (DD) 


Saturday, April 1, 2023

MELIHAT TUHAN TERSENYUM

“Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Lukas 5:27, 32) 

Lewi, seorang pemungut cukai yang dianggap berdosa oleh orang-orang Yahudi. Menurut WIKIPEDIA, Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik tertentu, yaitu konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan. Cukai berbeda dengan pajak. Pengertian Pajak adalah kontribusi wajib orang pribadi atau badan kepada negara berdasarkan Undang-Undang dan pelaksanaannya dapat dipaksakan, demi terciptanya kemakmuran rakyat. Lalu apa yang salah dengan Lewi si pemungut cukai? Mungkin zaman itu pemungut cukai melakukan kegiatan yang bersifat negatif dan merugikan serta menyengsarakan rakyat. Sehingga pemungut cukai dikategorikan sebagai orang berdosa seperti pezina dan perbuatan jahat lainnya. 

Dosa membuat orang tersingkir dari Tuhan dan sesamanya. Juga menciptakan jurang yang lebar bagi hubungan Tuhan dan umat-Nya. Di Alkitab, Zakheus, Lewi, seorang pemungut cukai, dijauhi dan disingkirkan oleh sesamanya karena mereka dicap debagai orang berdosa. Si pendosa perlahan-lahan menjauhi suara Tuhan. Bukan karena ia tidak mau datang kepada Tuhan, melainkan karena disingkirkan oleh sesamanya yang menganggap diri sendiri tidak berdosa. Akibatnya, ia patah hati dan terluka. Ia pun terus menerus tenggelam dalam dosa dan membelenggu diri dengan berbuat dosa tanpa henti. 

Syukurlah, Tuhan datang membawa sebuah kemerdekaan batin bagi orang berdosa (Lukas 5:32). Dia mengairi kekeringan hubungan yang terjadi antara Allah dan manusia selama ini. Dan Tuhan sama sekali tidak berniat menyingkirkan orang berdosa. Tak pernah terpikir oleh-Nya menjauhkan mereka dari-Nya, bahkan dari hadirat-Nya. Tuhan rindu tetap bersama mereka. Itu sebabnya, Dia berseru dengan penuh kepastian untuk meneguhkan hati yang luka. Tangan-Nya terukur kepada kita untuk merangkul orang-orang berdosa dan menyembuhkan luka mereka. Tuhan membela mereka dan berdiri bersama mereka, supaya mereka tidak terus-menerus menyalahkan diri dan supaya orang yang menyingkirkan mereka tidak terus-menerus membenarkan diri. Bagi Yesus, yang penting dari undangan perjamuan makan adalah respon Lewi yang menerima kehadiran-Nya dalam hidupnya, dan kehadiran orang-orang berdosa lainnya untuk mengenal dan menerima Dia seperti yang telah terjadi pada Lewi. 

Mari kita tinggalkan dosa dan masa lalu kita yang kelam, karena Dia telah membebaskan kita dan memberikan kemerdekaan sejati bagi kita untuk menjauhi dosa. Amin! (AU)